JAKARTA - Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Ahmad Mubarok menilai Presiden tidak bisa dimakzulkan seenaknya.
Hal tersebut diungkapkan Mubarok menjawab pertanyaan audiens saat diskusi kenegaraan di Gedung DPD Jakarta, Rabu (30/3/2011).
"Pak Mubarok, rakyat sudah kecewa dengan SBY yang tidak becus memimpin negara ini. Sikap leadership beliau yang tidak tegas, ragu-ragu, dan lambat menangani persoalan di negara ini. Kami mempersilakan beliau untuk istirahat lebih cepat," ujar salah seorang penanya saat sesi tanya jawab.
Menanggapi hal tersebut, Mubarok memiliki jawaban sendiri. "Jangan salahkan Presiden lha wong rakyat yang memilih dia, berarti rakyat dong yang salah kenapa pilih dia. Yang menawarkan paket 'lebih cepat lebih baik' saja tidak dipilih," sindir Mubarok.
"Koalisi itu ibarat salat berjamaah. Makmum harus nurut dengan imam selama salat berlangsung. Tidak bisa mengganti imam di tengah-tengah salat. Kalau mau jadi imam tunggu di salat berikutnya," sindir Mubarok saat Diskusi Kenegaraan di Gedung DPD Jakarta, Rabu (30/3/2011).
Hal berbeda diungkapkan Pengamat Politik dari Universitas Indonesia, Maswadi Rauf menanggapi pernyataan Mubarok. "Jangan salah profesor (Mubarok), makmum boleh menyuruh imam bila bacaan selama salat tidak benar, tidak harus menunggu salat selesai," ungkap Maswadi diikuti gelak tawa para audiens yang hadir.
(Muhammad Saifullah )