JAKARTA - Proyek miniatur Taman Mini Indonesia Indah atau populer disebut TMII, kini sudah jauh berkembang dari keadaan pada awal dibangun 1972 dan diresmikan tanggal 20 April 1975 . TMII merupakan kawasan wisata yang unik. Keragaman bangsa Indonesia dapat terlihat di setiap tempat-tempat yang ada di TMII.
Berbagai aspek kekayaan alam dan budaya Nusantara sampai pemanfaatan teknologi modern dihadirkan di areal seluas 150 hektare. Dengan fasilitas yang ada antara lain, 32 anjungan daerah, arsipel Indonesia, Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Istana Anak Anak Indonesia, 11 unit taman antara lain Taman Burung, Taman Akuarium Air Tawar, Taman Bunga Keong Emas dan Taman Budaya Tionghoa Indonesia. Kemudian, penampilan 15 museum antara lain Museum Indonesia, Museum Transportasi, Museum Minyak & Gas Bumi. Berbagai sarana hiburan seperti Teater Imax Keong Emas, Kereta Gantung, Aeromovel, Kereta Api Mini, Snow Bay Water Park, semuanya menawarkan nuansa edukatif nan menarik.
Sebab itu, tidak berlebihan kiranya tepat di usianya ke-36, TMII patut dikagumi masyarakat Indonesia, bahkan luar negeri. TMII menjadi gambaran suatu rangkuman kebudayaan masyarakat Indonesia yang beraneka ragam. Keberadaan TMII secara tidak langsung dapat ikut melestarikan kebudayaan Indonesia yang mulai terancam, akibat maraknya budaya pop.
Selain dapat lebih memahami tentang kebudayaan Indonesia, pengunjung juga dapat menambah ilmu melalui beberapa pengetahuan tentang keagamaan, hiburan, pertanian, maupun sejarah-sejarah yang ada di Indonesia. TMII mampu membangkitkan rasa-rasa kebudayaan terhadap generasi-generasi penerus yang nantinya akan mencintai, menghayati, dan akan terus menerus mengupayakan agar kebudayaan tersebut menjadi yang terbaik.
Hal ini terlihat dari upaya TMII melalui sanggar-sanggar pendidikan seninya secara aktif menggugah minat dan apresiasi generasi muda, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Upaya pendidikan dan pembinaan ini menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Melalui sasana krida maupun sanggar-sanggar tari dan musik di lingkungan TMII, masyarakat dari berbagai generasi pun dapat bersama-sama mengenal, mempelajari, melestarikan, dan mengembangkan beragam aspek seni budaya Indonesia.
Salah satu hal yang patut diapresiasi dari TMII adalah kepeloporan yang secara berkesinambungan dalam membangkitkan minat masyarakat untuk mencintai dan mengunjungi museum. Misalnya, TMII menampilkan sisi kreatif untuk menepis kesan suram dan kuno yang selama ini melekat pada museum-museum di Tanah Air. Museum yang dibangun secara integratif cukup bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam wawasan dan pengetahuan seputar keindonesiaan.
Sementara itu bentuk-bentuk bangunan di setiap anjungan daerah merupakan hasil upaya TMII di bidang pelestarian ragam bentuk bangunan arsitektur tradisional. Bentuk dan bangunan arsitektur yang aspiratif dan inspiratif ini harus dipertahankan dan dikembangkan di masa mendatang. Bangunan modern di TMII juga mengacu konsep masa depan namun tetap mengakar pada tradisi dan filosofi Indonesia.
Tak hanya itu, sektor industri kecil tidak luput dari bidikan TMII. Para perajin benda-benda seni dari berbagai daerah secara konsisten diberi kesempatan dan dibina untuk menampildan karya seni sebagai warisan budaya bangsa, sekaligus memasarkan hasil buah tangannya.
Berkat sumbangsihnya itu, dalam ulang tahunnya ke-36, TMII mendapatkan dua buah kado. Pertama TMII ditetapkan sebagai lembaga pelestari budaya Indonesia. Kado yang diberikan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik tersebut dilakukan sekaligus peresmian prasasti di Gedung Teater Tanah Airku TMII. Kado kedua adalah pemerintah mengajukkan TMII sebagai nominasi Penciptaan Ruang Budaya untuk Perlindungan, Pengembangan, dan Pendidikan Warisan Budaya 2011 yang diselenggarakan Unesco.
Direktur Oprerasional TMII Ade F Meyliala kepada okezone baru-baru ini mengaku bangga dengan dua kado tersebut. “Selama 36 tahun TMII selalu melestarikan kebudayaan Indonesia. Untuk itu, segala kegiatan akan kami lakukan sebagai nominasi Penciptaan Ruang Budaya untuk Perlindungan, Pengembangan, dan Pendidikan Warisan Budaya 2011 yang diselenggarakan Unesco dan Lembaga Pelestari Kebudayaan Indonesia,” kata Ade.
Ade menambahkan, TMII patut berbangga pula karena dijadikan contoh untuk negara-negara lain sebagai pelestarian kebudayaan Indonesia. “Dengan ditetapkannya sebagai Lembaga Pelestari Kebudayaan Indonesia, kami harapkan di tahun 2012 kita bisa masuk warisan budaya dunia,” ujarnya.
Tantangan
Salah satu upaya untuk pembangunan karakter bangsa adalah dengan menyelamatkan budaya lokal yang kondisinya kini memprihatinkan. Namun menyelamatkan budaya lokal yang mulai luntur tidak cukup sekadar memberi ruang berekspresi atau pertunjukan. Apabila pendekatan ini yang dominan ditempuh, maka akan muncul pemandangan pementasan dan antrean pengunjung. Setelah panggung tutup, bubar dan kembali pada situasi yang tak jauh beda. Gemuruh dan tepuk tangan dari penonton yang terpukau muncul dalam momen lain. Akhirnya, para seniman hanya akan tumbuh sebagai pemain yang menanti giliran manggung, menerima bayaran, dan selesai. Apa yang dimainkan, apa yang diperankan hilang entah ke mana.
Budaya tidak semata-mata pementasan. Jadi yang patut dipikirkan adalah bagaimana budaya dan kesenian itu menjadi sebuah roh. Orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak sekadar pemain, tetapi sekaligus pelaku dan menjadi bagian utuh dalam budaya dan kesenian itu sendiri. Bukan sebatas upacara seni yang hanya berlangsung sesaat, melainkan kesenian sebagai way of life. Hal inilah yang menjadi tantangan berat bagi TMII ke depan. Memang satu sisi persaingan bisnis wisata ini kian tajam. Sehingga, ini bukan pekerjaan mudah, tapi membutuhkan komitmen kuat dari semuanya. Pengelola TMII sudah membuka langkah ke arah itu.
Pengamat budaya dari Universitas Indonesia JJ Rizal saat berbincang dengan okezone juga menekankan hal ini. TMII jangan sebatas ruang publik dari miniatur keanekaragaman Indonesia. Kekayaan budaya dan kesenian Indonesia, sebenarnya tidak cukup direfleksikan hanya dengan bangunan, karya seni, atau pementasan seni. “Masyarakat tentu akan keliru memahami kekayaan budaya bangsa hanya dari sajian yang ada di TMII, sebab sudah tereduksi. Sebab itu, TMII perlu mengkaji ulang konsep, visi, dan misi sesuai dengan tuntutan zaman,” terang Rizal.
Rizal memberikan contoh, bagi anak-anak yang datang ke TMII tentunya tidak cukup dengan apa yang dilihat dan didengar di ruangan museum. Namun membutuhkan ruang pendidikan yang lebih komprehensif melalui serangkaian program terpadu berkesinambungan. Namun demikian, Rizal tetap mengapresiasi apa-apa yang selama ini ditempuh dan dicapai TMII dalam mempertahankan khasanah budaya Indonesia.
Dari uraian singkat di atas dapat ditarik benang merah cinta terhadap budaya Indonesia harus ditanamkan sejak dini, agar dapat mengenali dan memahami, serta menjaga kebudayaan bangsa ini sehingga tetap terpelihara dan berkembang. Pelestarian tidak bisa ditunda-tunda lagi, tidak cukup dengan seremoni saja. Jika kita sebagai anak bangsa tak ingin asing dengan warisan budaya sendiri, maka kenalilah apa yang menjadi potensi besar ini, yakni budaya dan kesenian asli Indonesia.
Dalam hal ini, TMII harus berada di barisan terdepan sebagai media yang tidak hanya menyediakan ruang publik bagi budaya dan kesenian, tapi sekaligus menggali, mempromosikan, dan menanamkan kepada generasi penerus pentingnya pelestarian budaya sebagai identitas bangsa. Seperti tema hari jadi TMII tahun ini, “Cintaku Negeriku” untuk mengembalikan karakter bangsa melalui kebudayaan benar-benar menjadi kenyataan bukan mimpi lagi.
(Dadan Muhammad Ramdan)