CHOEUNG EK - Warga Kamboja menghadiri peringatan hari pembantaian oleh rezim Khmer Merah yang dinamakan upacara "Hari Kemarahan". Mereka pun mendesak hukuman penjara bagi para mantan anggota Rezim Khmer Merah, dalam jangka waktu lama.
Ribuan masyarakat, termasuk di antaranya bikku dan anak-anak menonton pertunjukkan teater oleh para pelajar. Mereka memperagakan kekerasan Rezim Khmer Merah dan melakukan peringatan di dekat kuburan massal para tahanan.
"Saya tak dapat bicara apa-apa tentang penderitaan saya dibawah Rezim Khmer Merah. Sudah 30 tahun berlalu, tapi saya masih merasakan sakit itu," ujar Tim Pho 75 tahun yang kehilangan 15 anggota keluarganya ketika kelompok komunis tersebut mulai berkuasa.
Peringatan tahunan "Hari Kemarahan" diadakan hanya beberapa minggu setelah adanya pengadilan genosida terhadap empat pejabat senior Khmer Merah yang masih hidup, termasuk di antaranya Nuon Chea yang biasa disebut "Nuon Chea".
"Saya ingin empat pemimpin Khmer Merah mendapat hukuman yang berat, sehingga mereka tinggal di penjara seumur hidup," kata Tim Pho seperti dikutip AFP, Jumat (20/5/2011).
Dipimpin oleh Pol Pot, yang meninggal tahun 1998 silam, rezim komunis ini, lebih dari dua juta jiwa warga Kamboja tewas akibat kelaparan, kehabisan tenaga dan penyiksaan oleh rezim kejam tersebut.
Mantan Kepala Penjara Khmer Merah Kaing Guek Eav yang dikenal dengan Duch, divonis penjara 30 tahun Juli lalu, atas tuduhan perbuatan kriminal serta kejahatan atas kemanusiaan.
Duch adalah petinggi Khmer pertama yang diadili di pengadilan khusus PBB untuk Kamboja. Kasus tersebut kini dalam proses banding.
(Fajar Nugraha)