TOMOHON- Sepekan lebih ribuan warga yang tinggal di dalam radius bahaya letusan Gunung Lokon, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, hidup di pengungsian.
Banyak cerita duka saat mereka bermukim di pengungsian, namun di balik terselip peristiwa bahagia yang dirasakan beberapa keluarga. Mereka dikaruniai anak saat menetap di pos pengungsian.
Salah satu keluarga bahkan menamai anak mereka Justin Putra Lokon.
Justin dan ibunya, Gabriela, kini menjalani perawatan di Puskesmas Kecamatan Matani. Selain Justin ada seorang bayi lagi yang lahir lebih dulu. Kini Puskesmas Matani merawat dua bayi beserta ibu mereka.
Gabriela mengaku bersyukur karena fasilitas dan pelayanan yang diberikan Pemkot Tomohon sangat memadai.
“Kami enggak dipungut biaya, gratis,” ujarnya di Puskesmas Matani, Rabu (20/7/2011).
Selain Gabriela dan suaminya, ada pasangan lain yang juga menanti kelahiran anak pertama mereka.
Sementara itu sejak Pemkot Tomohon menginstruksikan warga untuk mengungsi, sudah tiga bayi yang dilahirkan di sana. Dua bayi dirawat di Puskesmas Matani dan seorang bayi lagi dirawat di Rumah Sakit Bethesda.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tomohon, Dolfien Karwur, mengaku pihaknya kesulitan mendistribusikan bantuan untuk bayi dan pengungsi balita lain.
Pasalnya data jumlah balita di setiap posko selalu berubah-ubah. Namun dia berjanji akan melakukan pelayanan terbaik, terutama untuk kesehatan bayi dan balita selama di masa pengungsian.
(Dian AF)