JAKARTA - Kota Ambon memcekam. Dalam situasi ini, warga kocar-kacir setelah terdengar suara tembakan di Kota Ambon, Maluku. Polisi yang hanya berjumlah beberapa orang itu, terpaksa melepaskan tembakan ke udara untuk membubarkan kerumunan massa yang membawa senjata tajam saat bentrokan meletus di pusat kota.
Suara tembakan itu terdengar dari kawasan Diponegoro, Pohon Pule, Airmata Cina, dan Talake. Warga makin banyak yang mengungsi di masjid, dan lokasi lainnya yang dinilai aman. Dilaporkan di sejumlah titik di kota Ambon, massa bentrok karena dipicu tewasnya seorang warga berprofesi sebagai tukang ojek, bernama Darmin Saiman dengan sejumlah luka di tubuhnya.
Dalam bentrokan itu, massa sempat membakar sejumlah kendaraan roda dua dan merusak kendaraan roda empat. Selain di kawasan Mangga Dua, bentrokan ternyata meluas ke sejumlah titik di Kota Ambon, di antaranya kawasan Tugu Trikora, Kota Ambon.
Massa menuntut polisi bertanggung jawab atas kematian Darmin. Hingga kini Kota Ambon masih tegang dan massa masih terlibat bentrokan. Hingga kini, sejumlah kawasan diblokir warga, sehingga kosentrasi massa hanya terjadi di beberapa kawasan di Kota Ambon di antaranya kawasan Mardika, Talake, dan Tantui, Ambon.
Pantauan di Rumah Sakit Al Fatah Ambon, satu korban tewas belum diketahui identitasnya. Diduga korban tewas akibat timah panas yang bersarang di tubuhnya, Minggu (11/9/2011). Mereka yang terkapar di rumah sakit kebanyakan terkena luka tembak, sabetan benda tajam, serta lemparan batu. Tercatat hingga sore ini, korban yang dirawat di ruang instalasi gawat darurat berjumlah 12 orang. Hingga kini aksi saling serang antarkelompok masih terus terjadi. Bahkan sejumlah gedung serta sejumlah kendaraan baik roda dua dan empat ikut dibakar masa.
Sebelumnya, 28 Juni 2011, dua kelompok warga di Kota Ambon, terlibat bentrokan. Akibatnya dua orang terluka dan dua unit sepeda motor rusak parah. Bentrokan ini terjadi antara warga Batu Gantong Dalam dan Batu Gantong Ganemo, Kota Ambon. Mereka terlibat saling serang dengan menggunakan batu dan benda tajam hingga ke jalan raya. Dua kelompok warga yang bertetangga selama ini, sering terlibat bentrokan yang dipicu masalah sepele.
Dua hari berselang, 30 Juni 2011, warga kembali terlibat aksi saling serang. Akibat bentrok tersebut sejumlah rumah warga rusak, beberapa orang juga terluka. Warga Batu Gantong Dalam mengaku kecewa dengan kesigapan aparat Kepolisian. Petugas dinilai telat untuk melerai kedua warga, karena terlambat tiba di lokasi.
Bentrokan antarwara juga pecah pada 5 Februari 2009, melibatkan warga Pelaw dan Kailolo yang menyebabkan satu bangunan terbakar. Polisi pun mengerahkan sekira 200 personel berjaga di lokasi bentrokan. Rumah yang dibakar itu merupakan milik warga Pelaw di Gang Wailaha, RT 01 RW 21, tepatnya di depan komplek Perumahan Bank Tabungan Negara Manusela.
Peristiwa ini dipicu penganiayaan seorang mahasiswa Universitas Darussalam di pangkalan ojek Wara Air Kuning. Korban yang merupakan warga Kailolo itu akhirnya mengadu kepada warga yang ada di Air Kuning. Korban mengaku, dua pelaku yang menyabet kakinya menggunakan senjata tajam adalah warga Pelaw. Akhirnya bentrokan dua warga pun tak terhindarkan.
Ambon memang rawan konflik antarwarga. Selain kejadian di atas, bentrokan paling tragis meletup pada 1999 silam. Konflik dan pertikaian yang melanda masyarakat Ambon-Lease sejak Januari 1999, telah berkembang menjadi aksi kekerasan brutal yang merenggut ribuan jiwa dan menghancurkan semua tatanan kehidupan bermasyarakat.
Hingga 2 September 1991 setidaknya telah tercatat 1.132 korban tewas, 312 orang luka parah, 142 orang luka ringan. Sebanyak 765 rumah, 195 ruko serta puluhan kendaraan hancur dibakar. Di samping itu 100.000 ribu orang sudah meninggalkan tempat tinggalnya dan sedikitnya 30.000 orang menjadi pengungsi di 60 kamp penampungan, khususnya di kota Ambon dan sekitarnya.
Imbasnya, sarana transportasi khususnya transportasi udara, terhenti. Harga-harga kebutuhan pokok kian melonjak dan persediaan makanan menipis, sementara kegiatan pendidikan pun terhenti. (Insyani/SUN TV)
(Dadan Muhammad Ramdan)