Anda Bijak Jika Tak Terhasut SMS Jahat

Dadan Muhammad Ramdan, Jurnalis
Kamis 15 September 2011 13:17 WIB
Ilustrasi (Ist)
Share :

JAKARTA - Saat ini adalah eranya teknologi komunikasi dan informasi yang menglobal. Perkembangan dunia Iptek yang demikian mengagumkan itu, memang telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia.

Sumbangan Iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun ada kenyataan Iptek di bidang komunikasi dan informasi, misalnya,  akhirnya mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia.

Semua itu terjadi jika kecanggihan ini tidak bijak dalam memanfaatkannya. Sehingga, akan mengundang persoalan serius apabila jatuh dan digunakan oleh orang yang salah. Iptek seperti pedang bermata dua. Nah, karena kecanggihan dunia seluler inilah membikin ruyam urusan di Ambon, sehingga berujung bentrokan berdarah.

Salah informasi dan terlajur menyebar luas via SMS menyebabkan Ambon mencekam pascakerusuhan yang menewaskan tujuh orang dan puluhan lainnya terluka. Polri pun yakin kerusuhan di Ambon terjadi karena dipicu SMS provokator. Bahkan sumber SMS itu sudah dipastikan berasal dari Ambon. Kabareskrim Komjen Pol Sutarman menyebutkan, bentrokan di Ambon pada Minggu 11 September 2011 disebabkan adanya miss informasi yang membuat masyarakat terpancing dan melakukan kekerasan.

Karenanya, Mabes Polri melacak pengirim SMS provokasi tersebut yang ternyata dikirim juga ke kota-kota di Pulau Jawa. Dari penyelidikan, polisi menemukan pengirim SMS sesat tersebut. “Asalnya dari Ambon, mulainya dari Ambon, dan dikirim ke Surabaya, Solo,  dan dikirim ke beberapa daerah,” kata Sutarman di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (15/9/2011).

Tak cuma itu, upaya "memanaskan" Ambon juga disebar melalui pesan singkat di jejaring sosial facebook. Hal ini seperti diungkapkan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam. “Ada yang melalui SMS. Ada yang melalui facebook yang bersifat provokatif," imbuhnya.

Menurut Anton, akibat gencarnya pelacakan yang dilakukan polisi kini penyebaran SMS provokator tersebut telah berhenti. "Sampai saat ini terus bekerja, Alhamdulillah SMS sudah mulai berhenti," ungkapnya seraya mengimbau masyarakat cepat tanggap dan lapor polisi jika menerima SMS bernada hasutan.

Mewaspadai penyalahgunaan media komunikasi modern untuk menyulut konflik juga disampaikan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang melihat konflik Ambon karena dipicu salah paham masyarakat Ambon dalam menerima informasi. "Konflik kan hanya karena kesalahpahaman yang begitu cepat meluas lewat teknologi, SMS. Isu yang diterima jadi berita yang dianggap nyata padahal belum tentu," ungkapnya di Bandung, kemarin.

Menurut salah satu aktor yang banyak berperan dalam menciptakan perdamain pascarusuh Ambon 1999 silam itu, saat ini teknologi khususnya di bidang telepon seluler sudah sangat maju, sehingga memungkinkan informasi yang belum tentu kebenarannya menyebar sangat cepat. Untuk mengatasinya, kata JK, harus ada counter dengan informasi yang baik dan aman lewat diplomasi yang terbuka.

"Sekali lagi konflik Ambon karena salah paham informasi, jadi perlu memberikan keterangan lebih cepat apa yang terjadi. Jangan menunggu. Jika rakyat mengira ada pembunuhan tapi tidak benar harus segera disampaikan informasinya, lengkap dengan saksinya," paparnya.

Ketua Umum PMI ini menekankan kesalahpahaman yang berasal dari informasi sesat yang tersebar luas seperti di Ambon bisa terjadi di mana-mana. Kasus Ambon mirip dengan kasus di London, Inggris, yang terjadi karena salah paham akibat cepatnya informasi yang menyebar.

Seperti diketahui, bermula dari kabar kematian Darfin Saimen, seorang tukang ojek asal Gunung Nona, Kecamatan Nusaniwe -- meletuplah rusuh di sebagian Kota Ambon, Minggu 11 September 2011. Pesan pendek (SMS) berantai yang menyebutkan jika korban dibunuh dan diduga menjadi salah satu pemicu. Padahal, polisi menegaskan penyebab kematian tukang ojek itu murni kecelakaan lalu lintas.

Modus seperti ini mirip dengan kerusuhan berdarah tahun 1999. Kala itu penyebaran isu provokasi melalui telepon umum karena ponsel belum ada. Dengan berkembangnya media komunikasi moderen, modus-modus kejahatan juga turut menyesuaikan dalam pola-pola kerjanya.

Sebelum kasus Ambon meletus, di Jawa juga terjadi hal yang sama warga terlibat bentrokan akibat menerima pesan berantai via SMS. Misalnya, kasus rusuh Temanggung yang dipicu soal penistaan agama pada Februari 2011. Dalam SMS itu ternyata juga disebutkan rumor bahwa terdakwa Antonius Richmond akan dihukum ringan. Padahal, faktanya terdakwa divonis lima tahun penjara, sesuai ancaman hukuman maksimal dalam pasal yang dituduhkan. (Fahmi Firdaus-Okezone)

(Dadan Muhammad Ramdan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya