Bentrok Ambon masih misteri, Komnas HAM turun tangan

, Jurnalis
Senin 19 September 2011 16:14 WIB
Ilustrasi kekerasan.
Share :

Sindonews.com - Bentrok warga yang terjadi di Kota Ambon pada 11 Januari 2011 nyaris saja membesar jika pihak-pihak terkait tidak sigap menenangkan warga, dan menangkapi para provokator. Sehingga korban tewas sebanyak tujuh orang, dan belasan luka-luka tidak bertambah lagi.

Hingga kini, latar penyebab yang pasti mengenai asal muasal bentrokan antar warga ini belum diketahui. Namun dugaan sementara, bentrokan dipicu tewasnya seorang warga berprofesi sebagai tukang ojek, bernama Darmin Saiman dengan sejumlah luka di tubuhnya.

Untuk menyelidiki sebab musabab yang pasti, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menurunkan tim investigasi ke lokasi bentrokan. Tim yang diturunkan oleh Komnas HAM dibentuk oleh Komnas Pusat dan Komnas di Ambon.

Saat ini, tengah mengumpulkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan. "Mengumpulkan fakta-fakta tentang apa persisnya yang terjadi di sana. Bukan hanya menyangkut penyebabnya tapi juga latar belakang kenapa kerusuhan bisa terjadi," kata Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim di Hotel Atlet Century, Jakarta, Senin (19/9/2011).
 
Selain itu, Komnas HAM juga mencari tahu bagaimana antisipasi dari pihak aparat keamanan untuk mengantisipasi meluasnya kerusuhan tersebut. "Itu yang coba kita rekonstruksi melalui penyelidikan kami di lapangan," kata Ifdhal.

Dalam temuan awal, Komnas HAM melihat ada yang sengaja memainkan isu ini sehingga menjadi besar. Sementara fakta kejadian yang ditemukan, sebenarnya sangat sederhana yaitu adanya orang yang menabrak kemudian ditolong oleh satu keluarga, namun kemudian beredar isu korban ini mengalami penyiksaan di komunitas agama tertentu. Sehingga dari pihak keluarga korban tidak menerima, dan terjadilah kerusuhan massa tersebut.

Untuk memastikannya, lanjutnya, saat ini masih diselidiki adanya pemanfaatan isu tersebut. Mengapa bisa terjadi dengan mudah, sebab kejadiannya di depan polsek. Komnas HAM mempertanyakan mengapa aparat kepolisian tidak bisa mengantisipasi, sehingga kerusuhan tersebut meluas dan melakukan pembakaran sehingga menimbulkan kecemasan di kota Ambon.
 
"Ini yang menurut kami akan dimintai pertanggungjawabannya. Apa antisipasi Polri ketika ini terjadi, seharusnya polisi dapat mengantisipasi sehingga ini tidak perlu terjadi. Masalahnya, itu juga waktunya dekat dengan pelantikan Bupati di sana (Pulau Seram) yang diminta untuk tidak diangkat kepada Gubernur," tandasnya.

Di tengah suasana yang mengkhawatirkan, warga Ambon juga menerima pesan singkat yang bersifat provokatif. Polisi dikabarkan telah mencium penyebar sms yang meresahkan masyarakat tersebut.

Pada pekan ini, polisi juga sudah melakukan olah tempat kejadian perkara untuk membongkar kasus kerusuhan yang terjadi pada Minggu hingga Senin (10-11 September 2011) itu. Hingga hari ini polisi belum menetapkan tersangka karena tahap penyelidikan yang dilakukan baru memasuki tahap olah TKP.

Seperti diberitakan, bentrokan di depan polsek itu cepat membesar. Polisi yang hanya berjumlah beberapa orang itu, beberapakali melepaskan tembakan ke udara untuk membubarkan kerumunan massa yang membawa senjata tajam saat bentrokan meletus di pusat kota.

Suara tembakan itu terdengar dari kawasan Diponegoro, Pohon Pule, Airmata Cina, dan Talake. Warga makin banyak yang mengungsi di masjid, dan lokasi lainnya yang dinilai aman. Dalam bentrokan itu, massa sempat membakar sejumlah kendaraan roda dua dan merusak kendaraan roda empat. Selain di kawasan Mangga Dua, bentrokan ternyata meluas ke sejumlah titik di Kota Ambon, di antaranya kawasan Tugu Trikora, Kota Ambon.

Korban tewas dan luka dilarikan ke Rumah Sakit Al Fatah Ambon. Mereka yang terkapar di rumah sakit sebagian terkena luka tembak, sabetan benda tajam, serta lemparan batu.

Editor: Hariyanto Kurniawan
Laporan: Susi Fatimah (okezone)

(Hariyanto Kurniawan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya