Jadi Nama Jalan, Otista Justru Tak Dikenal Sebagai Pahlawan

Catur Nugroho Saputra, Jurnalis
Kamis 10 November 2011 10:05 WIB
Ilustrasi (Foto: aleut.wordpress.com)
Share :

JAKARTA - Kawasan Otista di Jakarta Timur pasti tak lagi asing di telinga warga Jakarta. Namun ternyata masih ada juga yang tak tahu nama asli kawasan tersebut, termasuk asal nama jalan yang terkenal selalu padat itu.

Jalan Otista aslinya bernama Jalan Oto Iskandar di Nata, yang juga adalah seorang pahlawan nasional. "Oto Iskandar di Nata, nama jalan, dan seorang pahlawan, tapi jasanya tidak tahu," aku Kris (20), tukang ojek di sekitar Jalan Otista, kepada okezone.

Menurut Kris, dia lebih mengenal Otista sebagai nama jalan ketimbang nama seorang pahlawan. "Nama jalan di sini dan Tanggerang," imbuhnya.

Hal yang sama juga dilontarkan Rudi (25), warga sekitar Otista, yang mengaku tahu nama jalan dan seorang pahlawan, namun dia tidak mengetahui banyak soal perjuangan Oto Iskandar di Nata.

"Saya tidak tahu jasa apa yang telah diperbuat olehnya, hanya tau dia pahlawan saja," tuturnya.

Lebih jauh, Rudi menuturkan siapa pun Otto Iskandar di Nata tersebut, yang jelas dia telah berjasa bagi negara dan bangsa Indonesia. "Kalau namanya dipakai ke nama jalan pasti ia telah berjasa kepada bangsa ini," jelasnya.

Raden Oto Iskandar di Nata adalah pria asal Bandung, Jawa Barat. Pahlawan yang diberi julukan si Jalak Harupat ini lahir di pada 31 Maret1897 dan tercatata meninggal di Mauk, Tangerang, Banten, 20 Desember 1945 pada usia 48 tahun.

Oto pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Budi Utomo cabang Bandung pada periode 1921-1924 dan Wakil Ketua Budi Utomo cabang Pekalongan tahun 1924. Ketika itu, dia menjadi anggota Gemeenteraad ("Dewan Kota") Pekalongan mewakili Budi Utomo.

Oto juga aktif pada organisasi Paguyuban Pasundan. Dia menjadi Sekretaris Pengurus Besar tahun 1928, dan menjadi ketuanya pada periode 1929-1942. Organisasi tersebut bergerak dalam bidang pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan.

Oto juga menjadi anggota Volksraad (semacam DPR) yang dibentuk pada masa Hindia Belanda untuk periode 1930-1941.

Pada masa penjajahan Jepang, Oto menjadi Pemimpin surat kabar Tjahaja (1942-1945). Dia kemudian menjadi anggota BPUPKI dan PPKI yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang sebagai lembaga-lembaga yang membantu persiapan kemerdekaan Indonesia.

Oto juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara pada kabinet yang pertama Republik Indonesia tahun 1945. Dia bertugas mempersiapkan terbentuknya BKR dari laskar-laskar rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dalam melaksanakan tugasnya, Oto diperkirakan telah menimbulkan ketidakpuasan pada salah satu laskar tersebut. Dia menjadi korban penculikan sekelompok orang yang bernama Laskar Hitam, hingga kemudian hilang dan diperkirakan terbunuh di daerah Banten.

Oto Iskandar di Nata diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973. Sebuah monumen perjuangan Bandung Utara di Lembang, Bandung bernama "Monumen Pasir Pahlawan" didirikan untuk mengabadikan perjuangannya.

Anda pasti pernah dengar nama sutradara kondang Nia Dinata kan? Dia adalah salah seorang cucu Oto Iskandar di Nata.

(Lamtiur Kristin Natalia Malau)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya