JAKARTA - Proyek renovasi toilet dan ruang rapat Badan Anggaran (Banggar) DPR terus menuai kontroversi. Kali ini koalisi lembaga swadaya masyarakat (LSM) melakukan cara unik untuk menyindir anggota dewan yang terkesan kebal kritik itu.
Dalam jumpa pers yang digelar siang ini, Koalisi Antimafia Anggaran memamerkan kloset. Kloset yang dibeli dengan merogoh kantong tak lebih dari Rp100 ribu ini sengaja dipajang di depan meja jumpa pers di Sekretariat Indonesia Corruption Watch (ICW) di Kalibata, Jakarta Selatan.
"Pamer toilet ini tujuannya untuk mendeligitimasi kebijakan DPR. Kita ingin mengejek DPR tekait proyek toilet dan ruang Banggar dan proyek-proyek lainnya," kata peneliti Korupsi Politik ICW Apung Widadi kepada wartawan, Minggu (15/1/2012).
Menurut Apung seharusnya DPR lebih dulu melakukan kajian kepatutan dan kepantasan dalam perencanaan proyek fasilitas anggota dewan. Apalagi nilai proyek renovasi toilet ini cukup besar, Rp2 miliar.
"Sehrusnya DPR berkaca pada kondisi masyarakat yang jamban bersih dan sehat cukup kurang. Tapi mengapa DPR renovasi toilet yang masih bagus senilai Rp2 M," kritiknya.
Padahal, kata Apung, DPR seharusnya mengevaluasi kinerja unit kerja cleaning service yang bertugas di Senayan. Alasannya, setiap tahunnya Sekretariat Jenderal DPR mengalokasikan anggaran Rp15 miliar untuk jasa cleaning service. "Lebih baik mengevaluasi jasa cleaning service. Tujuannya untuk efisiensi anggaran DPR," sebutnya.
Selain dana besar untuk jasa kebersihan, Setjen DPR juga menganggarkan biaya pemeliharaan toilet yang mencakup pipa, closet, urinior,wastafel, kran, dan reservior. Pada APBN 2010 tercatat anggaran pemeliharaan toilet ini mencapai Rp1,7 miliar.
Koalisi LSM juga mengkritik kinerja Setjen DPR yang tidak transparan. "Secara keseluruhan bukan hanya toilet tapi masih ada proyek siluman. Sekjen DPR tidak transparan dalam proses perencanaan, apa sebenarnya kebutuhan yang mendasar. Ini yang publik tidak pernah ketahui," tandasnya.
(Dede Suryana)