JAKARTA - Selain menghelat kompetisi sampan bagi para pelajar SMA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya turut menghelat lomba majalah dinding (mading). Bukan sekadar lomba mading, para peserta harus berkreasi membentuk mading tiga dimensi dengan berbagai pesan penyelamatan lingkungan.
Bertempat di Grha Sepuluh Nopember ITS, puluhan siswa tampak sibuk membuat bentuk tiruan bumi dari kardus dan kertas bekas. Sementara, lainnya menata ranting-ranting pohon hingga berbetuk hutan mangrove.
Salah satu panitia Lomba Inovasi Teknik Lingkungan (LITL) tersebut, Patricia Permana Jati Hapsari mengatakan, transformasi energi menjadi tema besar dalam lomba ini. Dia mengungkapkan, lomba ini bertujuan untuk menggali pemahaman siswa tentang energi alternatif baru dalam bingkai kreativitas berupa mading.
Menurutnya, hal tersebut penting untuk memancing kesadaran siswa dalam penggunaan energi secara bijak. "Lebih baik lagi bila suatu saat mereka tertarik untuk mengembangkan ide penyelamatan energi yang mereka usung dalam mading," kata Patricia seperti disitat dari ITS online, Jumat (30/3/2012).
Mahasiswi yang kerap disapa Patty ini menyebutkan, peserta dari lomba ini berasal dari Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan. Dalam lomba yang berlangsung selama dua hari ini, para siswa diharuskan untuk membuat mading 3D secara on the spot pada hari pertama. "Kami menyediakan waktu pengerjaan selama 10 jam. Nantinya, seluruh kreasi akan dipamerkan di hari kedua," tutur Patty.
Dalam lomba ini, berbagai ide kreatif muncul dari tangan para siswa. Berlian Nada contohnya, ia bersama timnya membuat bentuk tiruan laut dilengkapi pasir serta kapal-kapalnya. Melalui karya tersebut, Berlian dan kawan-kawan mencoba mengkritik penggunaan jaring untuk menangkap ikan.
Dia menuturkan, hal tersebut tidak ramah lingkungan karena bisa merusak terumbu karang. Tidak sekadar kritik, dia juga membawa solusi pengganti jaring berupa penggunaan lampu. "Lihat saja waktu bulan purnama, pasti banyak ikan yang berkumpul di permukaan. Jadi, kami menggunakan lampu sebagai pengganti bulan purnama," ungkap siswa SMA Al Islah Lamongan ini.
Ide menarik lainnya juga muncul dari tangan Eko Cahyo. Masalah sumber energi dari masa ke masa menjadi perhatian siswa pondok pesantren tersebut. Eko bersama timnya mencoba menampilkan perbandingan sumber energi berupa kincir angin dan panel surya. Menariknya, Eko banyak menggunakan bahan-bahan bekas pakai untuk kreasinya. "Kami menggunakan lemari bekas kakak kelas kami di asrama. Daripada nganggur, lebih baik kami manfaatkan," ujarnya seraya tersenyum.
Lain Eko, lain pula Adi Pranata. Siswa SMA Mojoangung ini membuat miniatur hutan mangrove dari ranting dan jerami kering. Dia mengungkapkan, ide ini berawal dari melihat kehidupan masyarakat pesisir di Kenjeran. Dalam karyanya, Adi menampilkan pemandangan rumah-rumah yang dibangun di atas akar mangrove. Dia memaparkan, kotoran penghuni rumah-rumah tersebut akan diolah menjadi biogas dan dimanfaatkan kembali untuk kesejahteraan mereka. "Semoga, suatu saat ide kami bisa diterapkan di kehidupan nyata," kata Adi berharap.(mrg)
(Rani Hardjanti)