JAKARTA - Pemerintah geram menanggapi pernyataan LSM KontraS yang menyatakan agen pesawat Sukhoi, PT Trimarga Rekatama, memiliki keterkaitan dengan Istana.
"Itu mengada-ada, dari mana itu kok bisa muncul begitu? Dasarnya apa?
Beritahu saya biar saya bisa menjawab," ujar Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Gedung Bina Graha, Jakarta, Senin (22/5/2012).
Julian enggan mengomentari terkait pernyataan yang tidak jelas. "Katanya, katanya, berikan buktinya yang otentik, biar kita bisa memberikan informasi yang lengkap, utuh dan akurat kepada publik. Semua kalau dasarnya katanya ya repot. Nanti ditunjukkan kepada saya foto hasil crop siapa dengan siapa digabungkan, kemudian itu diklaim sebagai sesuatu yang utuh dan dianggap itu sangat dekat. Itu kan kacau semua jadinya," tuturnya.
Julian menegaskan bahwa hal itu tidak benar, dirinya tak pernah melihat dan mendengar informasi terkait hal kaitan antara agen Sukhoi di Indonesia dengan Presiden SBY.
"Saya tidak pernah melihat atau mendengar adanya informasi itu. Jadi, saya katakan tidak benar sajalah, biar tidak berkepanjangan," katanya.
Sebelumnya, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) meminta Kementerian Pertahanan transparan dalam pembelian pesawat Sukhoi. Kontras mengkhawatirkan kontrak pembelian pesawat itu dari produsen, Rosoboron Export berpotensi merugikan keuangan negara hingga USD100 juta.
“Yang harus ditutupi adalah strategi perang untuk penggunaan Sukhoi. Untuk itu kami meminta pada komisi I agar menyampaikan ke Menteri Pertahanan,” kata Koordinator Kontras Haris Azhar di Gedung DPR, Jakarta.
Hal yang sama terlebih dahulu disampaikan Indonesia Corruption Watch. ICW menemukan indikasi kejanggalan ketidakwajaran harga Sukhoi yang tiap unit dibeli Indonesia seharga 83 juta dolar AS. Padahal, harga resmi dari Rosoboron Export per Agustus 2011 hanya sebesar USD60 juta hingga USD70 juta per unit.
“Apakah penting harus ada agen dalam proses ini dan diuntungkan hingga 100 juta dolar?” kata Haris.
Mengenai keberadaan agen ini sudah dibantah oleh Kementerian Pertahanan. Juru bicara Kementerian Pertahanan Hartind Asri mengatakan, perusahaan Tri Marga Rekatama yang diduga sebagai agen hanyalah rekanan Rosoboron Export di Indonesia.
Haris pun meminta agar Komisi I tidak memberikan persetujuan finalisasi keputusan pembelian pesawat tersebut.
(Lamtiur Kristin Natalia Malau)