MEDAN - Kepolisian Sektor Medan Sunggal, Sabtu (25/8/2012) sekira pukul 23:30 WIB mengamankan 17 anggota geng motor Water Blue (WB) yang diduga akan membuat keributan.
Ke-17 anggota genk motor ini ditangkap petugas di kawasan Jalan Lingkar Luar, Pasar III Jalan Melintang, Medan setelah mendapatkan laporan dari warga yang merasa resah dengan aksi para anggota geng motor yang sering berkeliaran disekitar kawasan tersebut.
"Di sini kan memang banyak motor lalu lalang. Apalagi kalau malam Minggu. Tapi mereka kayak cari ribut, semua orang yang lewat bergerombol "digeber" . Kita enggak mau ada kerusuhan aja dengan masyarakat seperti di beberapa tempat di Medan, makanya langsung kita hubungi polisi. Kalau mereka sampai buat ribut kan masyarakat juga yang susah. Apalagi disini kan banyak usaha masyarakat," jelas Ahyar (29) warga yang mengaku mengaku melaporkan aksi tersebut ke kepolisian.
Kapolsek Medan Sunggal AKBP B Marpaung saat dikonfirmasi, membenarkan adanya penangkapan tersebut. Ia mengaku saat ini sedang melakukan pemeriksaan terhadap ke-17 tersangka. Kepolisian juga diakui tengah mengejar ketua kelompok geng motor itu, karena diduga tengah merencanakan tindakan kriminal.
"Iya, kita amankan totalnya 17 orang. Mereka dari kelompok Water Blue. Kini sedang kita periksa. Kita sudah kembangkan, dan tengah mengejar tersangka A (30), yang menurut pengakuan mereka sebagai pimpinan kelompoknya. Kita akan tegas dalam penanganan kasus ini, karena disamping meresahkan masyarakat, aktifitas genk motor yang menggunakan senjata tajam ini sudah mengarah ke tindakan kriminal murni," tuturnya.
Salah satu tersangka anggota genk motor yang tertangkap M Ilham mengatakan aksi geber motor yang mereka lakukan merupakan bentuk provokasi untuk memancing rival mereka dari kelompok Simple Life (SF) karena telah berbuat arogan dengan salah satu anggota kelompoknya.
"Kami sengaja bang geber-geber kereta. Kami mau mancing anak SL keluar. Mau kami habisi karena udah arogan sama anggota kami. Ini perintah ketua kami. Kami bertujuh sebenarnya, tujuh yang jalan 10 lagi memantau. Sekali jalan kami dapat Rp3 juta untuk menghabisi mereka," tandasnya.
(Susi Fatimah)