YOGYAKARTA – Hasil panen salak pondoh di Kabupaten Sleman, DIY, mulai normal pascarekontruksi dan rehabilitasi tanaman salak yang rusak akibat erupsi Gunung Merapi 2010 silam. Erupsi telah merusak 70 persen perkebunan salak. Kini, setelah dua tahun, produksi salak pondoh telah mencapai 80 persen dibanding sebelum erupsi.
Ketua Asosiasi Salak Pondoh Prima Sembada, Iskandar, mengaku, perbaikan kondisi perkebunan salak lebih cepat satu tahun dari target semula. Petani berhasil melakukan pemangkasan dan perawatan sehingga tanaman lebih cepat berbuah.
Tanaman salak di sejumlah perkebunan di lereng Merapi roboh dan gosong karena terkena awan panas dan abu Merapi. “Sekarang sekira 80 sudah kembali dan menjadi harapan baru bagi petani salak,” ucap Iskandar.
Menurutnya, akibat erupsi, banyak petani yang tidak bisa membayar utang dari lembaga perbankan maupun keuangan. Beruntung banyak pihak bisa menerima dan mau menangguhkan cicilan.
Kini, salak hasil perkebunan di lereng Merapi tidak berpestisida atau mengandung zat kimia lainnya. Semuanya dilakukan sesuai prosedur agar bisa merambah pasar mancanegara, khususnya ke China dan Singapura. Setiap pekan, ekspor ke Singapura mencapai satu hingga dua ton.
Meyikapi kondisi yang ada, Organisasi Pangan Sedunia atau (Food and Agriculture Organitation/FAO) akan mengajak 13 perusahaan perdagangan hasil pertanian organik berwisata di kebun salak. Ini merupakan fasilitasi FAO untuk membuka akses pasar Asia Tenggara.
“Dengan ada akses pasar luar negeri, kami harapkan harga salak bisa membaik 20 sampai 40 persen,” jelas FAO Livelihood Coordinator, Sebastian Saragih.
(Risna Nur Rahayu)