JAKARTA - Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle, Syahganda Nainggolan, mendesak, Dewan Perwakilan Rakyat membentuk tim investigasi menyusul temuan Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Apalagi, kebocoran draft Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) atas nama mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, berasal dari institusi yang diketuai Abraham Samad tersebut.
"DPR dan pemerintah harus membentuk tim investigasi keamanan data-data KPK," kata Syahganda saat dihubungi Okezone, Rabu 3 April malam.
Syahganda menduga kebocoran data di KPK tidak hanya terjadi pada kasus draft Sprindik Anas. Berkaca dari banyaknya informasi di tahap penyidikan yang sudah muncul di media massa sebelum diumumkan secara resmi, dia menyatakan besar kemungkinan data-data rahasia KPK sudah tidak aman.
"Masalah (draft) sprindik harus ditindaklajuti dengan menyelidiki adanya pembocoran data-data lain. Apakah ada pembocoran hasil rekaman, karena rekaman penyadapan bernilai tinggi," ungkapnya.
Menurut Syahganda, temuan Komite Etik KPK terkait kebocoran Sprindik Anas telah membuka kotak pandora bahwa keamanan data-data KPK sudah diragukan. Dia khawatir ada data-data KPK yang jatuh ke pihak asing.
"Kalau data-data KPK jatuh ke pihak asing, maka data elite kita bisa dikuasai mereka," jelasnya.
Terkait sanksi yang dijatuhkan Komite Etik itu, Syahganda menyatakan Abraham Samad harus mengundurkan diri. "Itu bisa dilihat bocornya data dari meja Ketua KPK sendiri. Samad harusnya malu dan mengundurkan diri," tegasnya.