TRIPOLI - Bentrokan yang terjadi di Mesir menyebar ke Libya. Sebuah kantor milik Ikhwanul Muslim di Libya diserang oleh warga yang melakukan protes dipicu pembunuh seorang pengkritik kelompok tersebut.
Ratusan orang turun ke jalan mengecam pembunuhan aktivis dan pengkritik Ikhwanul Muslimin, Abdelsalam al-Mosmary. Pria itu ditembak mati pada Jumat 26 Juli, setelah baru saja keluar dari masjid usai melaksanakan salat Jumat. Demikian diberitakan AFP, Sabtu (27/7/2013).
Mosmary selama ini dikenal sebagai tokoh penentang dari Ikhwanul. Kelompok Ikhwanul Muslimin bukannya tanpa kekuatan di Libya. Sayap politik mereka merupakan yang terbesar kedua dalam Kongres Nasional Libya. Mosmary sering tampil di televisi dan mengecam kehadiran sayap militer Ikhwanul Muslimin di Libya.
Sejak Moammar Khadafi dilengserkan dengan paksa, kondisi keamanan di Libya berada di bawah kekuasaan pihak milisi. Pemerintah Libya yang baru dinilai lemah untuk memegang otoritas keamanan.
Partai Keadilan dan Pembangunan (JCP) yang merupakan sayap politik Ikhwanul Muslimin di Libya, merupakan partai terbesar kedua di Parlemen Libya. Banyak pihak di Libya yang menentang keberadaan Partai JCP di Libya.
Kondisi yang terjadi di Libya hampir mirip dengan apa yang dialami oleh Ikhwanul Muslimin di Mesir. Kelompok Ikhwanul di Mesir terus mendapat tentangan, khususnya setelah militer melengserkan mantan Presiden Mohammad Morsi dari kekuasaan.
Kekerasan terbaru terjadi di Mesir saat ini. Protes dari pendukung Morsi berakhir dengan pertumpahan darah. Sekira 75 pendukung Morsi dilaporkan tewas tertembak, yang hingga saat ini belum diketahui asal pelurunya.
(Fajar Nugraha)