Subak, World Heritage UNESCO asal Bali yang Terancam Punah

Rohmat, Jurnalis
Jum'at 30 Agustus 2013 10:44 WIB
Sistem pengairan subak (Dok: RCTI)
Share :

DENPASAR - Keberadaan subak sebagai sistem irigasi khas Bali makin terancam menyusul tergerusnya lahan sawah. Diperkirakan, 1.000 hektare sawah di Bali 'hilang' setiap tahun lantaran dijual pemiliknya ke pengembang.

Subak yang telah terjaga selama lebih dari 1.000 tahun mendapat anugerah World Heritage (Warisan Dunia) untuk kategori lansekap budaya oleh badan PBB, UNESCO, pada 2012.

Tidak hanya itu, kepopuleran subak mampu memikat lebih dari 2 juta wisatawan domestik dan mancanegara setiap tahunnya.

”Lansekap dan tradisi budaya subak sangatlah populer sehingga petani pun menjual sawah mereka kepada pengembang dan membuat luas lahan produksi berkurang 1.000 hektare setiap tahunnya,” terang Steve Lansing, seorang antropolog ekologi, dalam keterangan tertulisnya di Annual Ecosystem Services Partnership (ESP) Conference ke-6 di Bali, Jumat (30/8/2013).

Pria yang mempelajari sistem pengairan sawah di Bali sejak 1974 itu menjelaskan, subak merupakan sistem terpadu sehingga ketika sebagian lahan dijual, beban yang ditanggung sawah di sekitarnya akan meningkat.

Kondisi ini, lanjut dia, turut berkontribusi memberi tekanan lebih besar bagi petani lain untuk menjual sawah mereka.

Steve mengingatkan, bila lahan terus tergerus maka keberadaaan subak bisa terancam dan dalam beberapa tahun keseluruhan sistem akan hancur.

Untuk mencegah hal tersebut, UNESCO mengadopsi model bottom up untuk melindungi sistem tersebut.

Dalam rencana yang dikembangkan Steve dan rekan-rekannya, dibentuklah dewan pengurus yang terdiri dari kepala desa. Mereka bertugas mengelola wilayah Warisan Dunia itu.

Dewan inilah yang memutuskan aspek mana dari lansekap yang dapat melibatkan pengunjung, menarik biaya kunjungan, serta  menggunakan pendapatan tersebut untuk kepentingan bersama.

“Subak akan menjadi situs UNESCO pertama di Asia yang dikelola secara lokal dan bukan oleh pemerintah,” imbuhnya.

Ia berharap, dewan dapat bertindak cepat untuk mengatasi ancaman kepunahan subak.

”Perkembangan penting yang perlu dicatat bagaimana usaha pelestarian tidak hanya dilakukan di lahan persawahan, tapi juga di sistem pengelolaannya,” timpal Meine van Noordwijk, kepala peneliti di World Agroforestry Centre yang merangkap sebagai ketua penyelenggara konferensi.

Hal ini berbeda dengan situs Warisan Dunia lainnya di Asia, di mana biasanya sistem pengelolaan menggunakan pendekatan top down.

Diketahui, ketahanan subak sebelumnya teruji oleh revolusi hijau pada 1970-an, ketika Pemerintah Indonesia memperkenalkan teknologi-teknologi modern, seperti varietas baru padi, pupuk kimia, dan pestisida organik.

(Anton Suhartono)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya