JATINANGOR - Bercita-cita ingin menjadi arsitek, Deddy Mulyana malah "terdampar" di Fakultas Publisistik Universitas Padjadjaran (Unpad). Siapa nyana, dia kini memimpin sekolah komunikasi terbaik se-Indonesia.
Ketika Okezone berkunjung ke kampus Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad, Deddy bernostalgia tentang awal mulanya menjadi pendidik, hingga kini memimpin kampus untuk periode kedua. Dia mengaku, tidak pernah kepikiran menjadi pendidik. Bahkan, semua terjadi karena kebetulan.
Pria kelahiran 28 Januari 1958 ini sebenarnya ingin menjadi arsitek. Tetapi, dia gagal pada ujian masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Berbekal hobi menulis yang dilakoninya sejak SMA, Deddy pun berpikir, "Mengapa tidak masuk fakultas publisistik saja?"
"Saya berniat ikut tes masuk ITB lagi tahun depannya. Tetapi ketika tahun pertama saya diusulkan dapat beasiswa P&K (dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan - red). Ada lima orang yang dapat beasiswa itu. Makanya saya lanjutkan kuliah saya sampai selesai," kata Deddy, belum lama ini.
Ayah dua anak ini bercerita, menjelang lulus kuliah, Profesor Onong, dekan Fakultas Publisistik Unpad ketika itu, menawarinya menjadi dosen. Padahal ketika itu dia sudah bersiap untuk menjadi wartawan di Harian Pikiran Rakyat. Permintaan sang dekan tidak langsung dijawabnya. Tetapi di sisi lain, Deddy tergelitik dengan keinginan mengembangkan berbagai aspek dalam diri saya. Misalnya, dalam bidang bahasa. Deddy yang ketika itu sudah mahir berbahasa Inggris, ingin menguasai bahasa asing lainnya seperti bahasa Jerman.
Akhirnya, Deddy batal menjadi wartawan di Pikiran Rakyat. Dia memenuhi permintaan Profesor Onong. Sarjana muda itu akhirnya mengikuti tes menjadi dosen, dan ternyata lulus.
"Mungkin ini jalan Tuhan. Jika saya enggak lulus, mungkin saya enggak akan jadi dosen," imbuhnya.
Deddy mengenang, ketika membujuknya untuk menjadi dosen, Profesor Onong berkata, "Mungkin Anda bisa kuliah ke luar negeri karena memiliki bekal berbahasa Inggris." Omongan sang profesor terbukti. Pada 1984, Deddy mendapatkan beasiswa Fullbright ke Amerika. Beasiswa ini sangat bergengsi dan sulit ditembus.
Pria yang selalu tampil dengan peci hitamnya ini menyelesaikan studi master pada 1986 dan segera kembali ke Indonesia. Sekembalinya di Tanah Air, Deddy meneruskan pekerjaannya sebagai dosen. Dia pun belajar mencintai Fikom, dan kecintaannya bertahan sampai saat ini.
"Dan jika Tuhan bertanya, 'Apakah kamu ingin dikembalikan untuk menjadi arsitek?' Maka jawaban saya, 'Enggak,'" imbuhnya.
Jawaban ini, kata Deddy, memiliki alasan tersendiri. Dengan menjadi dosen, Deddy mengaku mendapatkan banyak anugerah dan kenikmatan. Bukan kenikmatan dalam rupa materi, tetapi kenikmatan mendapat berbagai peluang mengembangkan diri.
"Misalnya saya bisa kuliah di Amerika untuk Master dan di Australia untuk Doktor. Saya bisa riset post doktoral dan menjadi guru besar tamu di beberapa negara yakni Amerika, Belanda, Jerman, Australia, dan Malaysia," ujar Deddy.
Akademisi, kata Deddy, harus meningkatkan kemampuan akademis. Salah satu caranya adalah dengan sekolah lagi. Dia pun mendorong mahasiswa dan para dosen yang memiliki kesempatan untuk meneruskan studi. Sebab biasanya pengalaman sekolah lagi ini akan membantu mobilitas vertikal kita. Tetapi, ujarnya, yang lebih penting adalah menjadi selalu update dengan kondisi terkini dalam bidang kita karena ilmu selalu berubah.
"Saya sudah guru besar, tapi saya merasa perlu meningkatkan kemampuan. Saya berusaha setiap tahun keluar negeri, baik untuk riset maupun untuk ikut konferensi. Kalau pulang bawa banyak materi untuk kuliah atau nulis buku, saya senang sekali. Itu sesuatu yang berharga," kata pria yang dikukuhkan menjadi guru besar pada 2008 itu.
Cara lain mengembangkan kualifikasi sebagai akademisi ala Deddy adalah dengan meneliti dan menulis. Dari cerpen, Deddy kini lebih fokus pada menulis kajian ilmiah baik di jurnal maupun menerbitkannya dalam bentuk buku. Salah satu karya Deddy yang populer dan menjadi rujukan mahasiswa Ilmu Komunikasi di Indonesia adalah buku Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Buku ini sudah 17 kali cetak ulang.
Sibuk? Tentu saja. Tetapi Deddy mengaku, sangat menyukai dunia pendidikan. Bahkan, pria yang mengajar sejak 1982, ini merasa tidak memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan selama mendidik.
Satu hal yang membuat Deddy sedih adalah melihat ketidaksungguhan, baik di mahasiswa maupun dosen. Dalam hal mahasiswa, Deddy yakin para orangtua ingin anak-anaknya menjadi pribadi yang berhasil. Tetapi dalam perjalanannya, itu tidak selalu tercapai.
Deddy bercerita, banyak mahasiswa dan orangtuanya datang kepadanya dengan berurai air mata. Mereka mengadukan berbagai kendala saat kuliah; ada yang kesulitan ekonomi, ada juga yang memang malas hingga nyaris dikeluarkan.
"Ketika mahasiswa yang tidak rajin ini meminta perpanjangan masa kuliah tetapi tidak bisa kami berikan karena IPK-nya jelek, saya sangat sedih. Apalagi jika membayangkan saya adalah orangtua yang harus menghadapi kenyataan tersebut," tutur peraih gelar doktor dari Monash University, Australia itu.
Tetapi, kata Deddy, umumnya dunia pendidikan itu menggembirakan. Berbeda dengan dunia birokrasi atau politik. Berkecimpung di pendidikan, maka kita akan jarang bersinggungan dengan persaingan yang aneh-aneh. Selama memiliki kemampuan dan kemauan, kita akan maju. Apalagi banyak peluang yang bisa kita manfaatkan.
"Hal terpenting adalah kita bisa menjadi diri sendiri. Kita bisa bebas merdeka menjalani profesi ini. Kita memang punya atasan, tetapi beda dengan dunia birokrasi. Instruksi dari atasan bisa dinegosiasikan. Pengaturan waktu juga fleksibel. Mereka yang tidak punya kemauan ya memang akan sulit maju. Tetapi semua faktor tadi akan menjadi kesempatan bagi mereka yang ingin maju," urainya.
Sukses membawa Fikom Unpad sebagai pemimpin di bidangnya tidak lantas membuat Deddy silau. Dia mengklaim, tidak berambisi dengan jabatan yang lebih tinggi, misalnya dengan menjadi rektor. Menurut Deddy, menjadi dekan saja dia merasa sudah dicukupkan. Apalagi kedua anaknya juga sudah bisa merintis karier di bidang pilihan masing-masing.
Sebenarnya, kata Deddy, cita-cita seorang dosen bukanlah menjadi dekan atau rektor. Pencapaian tertinggi seorang dosen adalah menjadi guru besar. Dia menekankan, bukan semata-mata guru besar yang anonim, tetapi guru besar yang punya kelas dan berkiprah di dunia.
"Sekarang saya hanya ingin selalu sehat dan khusnul khotimah. Saya berusaha qonaah, berusaha puas dan ridho dengan apa yang saya terima," ujarnya. (tamat)
(Rifa Nadia Nurfuadah)