JATINANGOR - Sebagai satu-satunya fakultas ilmu komunikasi (fikom) di perguruan tinggi negeri (PTN) Tanah Air, selama ini Fikom Universitas Padjadjaran (Unpad) dianggap sebagai kiblatnya ilmu komunikasi di Indonesia. Tidak heran, selama empat tahun berturut-turut mereka meraih gelar sebagai Best School of Communication. Bahkan, tahun ini kampus yang terletak di Jatinangor, Jawa Barat, tersebut dinobatkan sebagai peraih peringkat pertama Best School of Communication versi majalah Mix Marketing Communication.
Fikom Unpad unggul atas perguruan tinggi lain penyelenggara jurusan Ilmu Komunikasi di Indonesia. Berturut-turut setelah Fikom Unpad adalah Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Lampung (Unila). Bagi Dekan Fikom Unpad, Prof. Deddy Mulyana, prestasi ini mengonfirmasikan apa yang selama ini dipersepsikan oleh civitas akademika Fikom Unpad tentang pencapaian mereka.
"Alhamdulillah. Buat saya ini sebuah anugerah. Setiap pencapaian itu relatif, tetapi keputusan penobatan secara resmi ini menunjukkan bahwa apa yang kami upayakan siang dan malam selama ini menunjukkan hasilnya. Prestasi ini juga memotivasi dosen dan mahasiswa untuk bekerja lebih keras sehingga Fikom Unpad lebih baik lagi," papar Deddy, ketika berbincang dengan Okezone di Kampus Fikom Unpad, belum lama ini.
Keberhasilan Fikom Unpad menyandang predikat Sekolah Komunikasi Terbaik di Tanah Air tidaklah diraih dalam semalam. Apalagi, pencapaian tersebut dipertahankan hingga empat tahun berturut-turut.
Kiat Deddy dalam menggawangi fakultas yang dipimpinnya mencapai prestasi sederhana saja; dengan memberikan contoh. Hal ini, kata alumnus Monash University itu, tidak lepas dari kultur Indonesia yang masih kuat dengan budaya paternalistiknya. Sesuai kultur tersebut, orang akan lebih mudah digerakkan jika pemimpinnya memberikan contoh. Orang akan lebih mudah diminta bekerja, jika pemimpinnya sendiri bekerja, langsung turun ke lapangan.
Karena itulah, Deddy berusaha menyediakan waktu sebanyak-banyaknya di kampus. Padahal, di luar kesibukannya menjadi dosen dan dekan di Fikom Unpad, Deddy aktif menjadi konsultan di berbagai perusahaan. Sang guru besar juga menjadi asesor Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi (PT) selama sepuluh tahun terakhir.
"Saya harus melepaskan beberapa ikatan di luar kampus, termasuk mengurangi kesibukan di luar negeri. Meskipun saya bisa tetap melakukan semuanya, saya pikir mahasiswa dan dosen membutuhkan saya ada di sini, di kampus sehingga mereka dengan mudah dapat berkonsultasi dengan saya," imbuhnya.
Contoh lainnya ditunjukkan penerima beasiswa Fullbright itu dengan rajin menulis. Deddy mengklaim, selama menjabat sebagai dekan sejak 2008 lalu, dia sudah menerbitkan tiga buku. Salah satu buku Deddy yang menjadi "kitab suci" pelajar ilmu komunikasi adalah Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar yang telah dicetak ulang hingga belasan kali. Deddy juga aktif menulis di berbagai jurnal ilmiah dan surat kabar.
"Tahun ini sudah ada enam hingga tujuh artikel yang dimuat. Jika dirata-rata, hampir sebulan sekali saya menerbitkan artikel. Semua ini saya lakukan untuk memberi contoh ke teman-teman, 'Jika saya yang menjadi dekan bisa melakukannya, mengapa Anda tidak?'" ujar peraih Inspirational Award dari Pemerintah Australia itu
Meski institusi yang dipimpinnya meraih peringkat pertama dan dinobatkan sebagai yang terbaik di bidangnya ternyata tidak membuat Deddy, secara pribadi, puas. Kepada Okezone, pakar komunikasi lintas budaya ini berbagi cerita tentang pencapaian kampus, cita-cita, dan kegelisahannya tentang dunia riset dan pendidikan tinggi Tanah Air. Simak kisah lengkapnya dalam seri Wawancara Khusus dengan Dekan Fikom Unpad Prof. Deddy Mulyana mulai Senin, 21 Oktober mendatang di kampus.okezone.com.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.