JAKARTA - Tahi Bonar Simatupang, mungkin nama tersebut asing di telinga masyarakat. Namun, jika kita melintas di Jalan TB Simatupang, nama tersebut langsung melekat dalam ingatan. Pasalnya, jalan tersebut sangat indentik dengan kemacetan.
Hari ini Jumat (8/11/2013), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada TB Simatupang dan dua tokoh perjuangan lainnya. Penganugerahan gelar tersebut berdasarkan Keppres Nomor 68 TK 2013 yang ditetapkan di Jakarta pada 6 November 2013.
Dikutip Okezone dari buku profil penerima gelar pahlawan nasional, TB Simatupang lahir pada 28 Januari 1920 di Sidikalang, Sumatera Utara. Dia merupakan tokoh militer Indonesia. Dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, TB Simatupang turut berjuang melawan penjajahan Belanda.
Karir militer TB simatupang sangat gemilang, dia juga dipercaya untuk membantu angkatan bersenjata Indonesia dan selalu menjadi perwakilan delegasi Indonesia di berbagai perundingan. Salah satunya di Konferensi Meja Bundar.
Bapak empat orang anak ini, kemudian diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI (1948-1949) dan kemudian dalam usia yang sangat muda dia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI (1950-1954). Pada tahun 1954-1959 dia diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI.
Namun karir militer suami dari Sumiarti Budiardjo itu harus berakhir. Dia mengundurkan diri dengan pangkat Letnan Jenderal (Letjen) dari dinas aktifnya di kemiliteran, karena perbedaan prinsipnya dengan Presiden Soekarno pada waktu itu.
TB Simatupang adalah pencetus ide tentang sumpah prajurit dan Sapta Marga. Setelah mengundurkan diri dari militer, hampir setiap hari dia meluangkan waktu untuk beribadah dan memberikan pelayanan di gereja.
(Susi Fatimah)