SOLO - Rektor IAIN Surakarta, Dr. Imam Sukardi, M.Ag mengemukakan bahwa kini pondok pesantren di Indonesia yang jumlahnya telah mencapai ribuan telah berkembang menjadi berbagai jenis dan model, seperti dari sudut segi ilmu yang diajarkan, jumlah santri, pola kepemimpinan dan juga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Fenomena sosial pondok pesantren secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua. Kelompok pesantren tradisional dan kelompok pesantren modern," jelas Imam Sukardi, pada acara The 1st Conference on Islamic Economic Studies (CIES) dan Seminar Nasional Kemitraan Strategis dan Jejaring Usaha pada Pesantren/Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, di Solo, Jawa Tengah, Minggu (24/11/2013).
Kelompok pesantren tradisional, menurut Imam, hanya mengajarkan ilmu keagamaan (klasik) khususnya mengkaji kitab-kitab kuning. Sedang kelompok pesantren modern, mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan modern dan keagamaan, baik dari kitab klasik maupun buku-buku modern.
Namun demikian, kata Rektor IAIN Surakarta, seiring dengan era globalisasi saat ini, pondok pesantren perlu meningkatkan kemampuan bersaing, seiring dengan perubahan-perubahan di dalam masyarakat global yang cepat atau lambat pasti akan mengimbas pada dunia pesantren sebagai bagian dari masyarakat dunia.
"Hal itu ditandai dengan munculnya berbagai indikasi kompetisi muncul, baik berskala lokal, domestik maupun global, yang menghadirkan beragam masalah yang kompleks, ketat dan rumut," jelasnya.
Sekarang ini, menurut Imam, pondok pesantren tidak hanya dituntut untuk mampu bertahan dan bersaing, tetapi juga mampu mengembangkan diri, baik pertumbuhan siswanya setiap tahun terus bertambah baik dari dalam negeri dan manca negara, mampu meningkatkan organisasi pembelajaran, melakukan kerjasama dan bersinergi dengan semua anggota dan jaringan organisasi baik di dalam dan luar lembaga pesantren, termasuk jaringan yang ada di luar negeri.
"Tujuan proses modernisasi pondok pesantren adalah berusaha untuk menyempurnakan sistem pendidikan Islam yang ada di pesantren, sehingga bisa mengikuti perkembangan jaman," jelasnya.
Sementara itu, CIES yang diikuti sebanyak 200 perwakilan pesantren se Jawa, menampilkan narasumber antara lain, Rektor IAIN Surakarta, KH Mahmud Ali Zain (Pondok Pesantren Sido Giri Pasuruan), Dr. KH Salahuddin Wahid, M.Sc, Dr. CA Jamaludin, LC, M.s,J dan sebagainya.