Wow..Uang Palsu Buatan Choirul Bisa Tembus Mesin ATM

Solichan Arif, Jurnalis
Selasa 04 Maret 2014 17:26 WIB
Share :

KEDIRI - Petugas Polres Kediri Kota, Jawa Timur, menggerebek lokasi pembuatan uang palsu di Perumahan Grand Kota, Kelurahan Doko, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Produksi uang palsu tersebut terbilang canggih karena selain mirip aslinya, uang yang dicetak mampu menembus keamanan perbankan.

Dua orang ditangkap dalam penggrebekan tersebut, yakni Choirul Masyhari Deleman (47) yang merupakan pembuat uang dan istrinya Farida, mantan pegawai Bank International Indonesia (BII).

Penggerebekan di rumah Choirul berawal dari laporan penjual kue bakpao yang biasa mangkal di Jalan Raya Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Korban merasa ditipu karena kue dagangannya dibayar dengan uang palsu oleh pelaku.

Petugas kepolisian menangkap Choirul dan istrinya bersama barang bukti empat lembar uang palsu pecahan Rp50 ribu. Petugas juga menemukan ruang khusus di bagian rumah yang sengaja dibuat sebagai ruang produksi. Di sana terdapat sejumlah bahan baku dan alat produksi, di antaranya beberapa botol tinta sablon, lembaran kertas, lem serta alat pemotongnya, kemudian juga satu unit mesin pencetak.

Choirul mengaku pernah menyetor uang palsu cetakannya ke rekening lewat layanan setor tunai di salah ajungan tunai mandiri (ATM). "Saat itu di daerah Purwokerto, saya mencoba menabung menggunakan uang palsu di mesin ATM dan berhasil," tutur Choirul, Selasa (4/3/2014).

Uang palsu ciptaan Choirul juga memiliki watermark, yakni garis tipis yang di dalam lapisan kertas sebagaimana uang keluaran Bank Indonesia (BI). Itu yang membuat banyak orang terkelabui. "Setiap hari saya memproduksi empat lembar. Saya biasanya membelanjakan sendiri di tempat umum, seperti SPBU, pasar dan pedagang makanan," terangnya.

Yang membedakan, pita yang tertanam pada lapisan kertas (water mark) milik Choirul lebih menyatu. Sementara uang asli terpisah dan putus putus.  Selain itu kualitas kertas yang digunakan Choirul juga lebih tebal, termasuk warna tintanya sedikit pudar.

Di hadapan petugas, Choirul mengatakan baru tiga bulan menjalankan aksi kejahatanya di Kediri. Namun ia juga mengakui sudah menjalankan aksi serupa tiga tahun silam di kota lain, termasuk di Kabupaten Purwokerto Jawa Tengah.

Menurutnya ketrampilan membuat uang palsu tersebut diperolehnya secara otodidak. "Saya melakukan ini (membuat uang palsu) karena merasa sakit hati. Sebelumnya pernah transaksi jual beli motor dibayar dengan uang palsu sebesar Rp3 juta," pungkasnya.

Pria asal Jakarta itu mengaku hanya mencetak uang pecahan Rp50 ribu. Alasannya, ongkos produksi uang pecahan Rp50 ribu lebih murah dibanding uang Rp100 ribu. "Kalau uang seratus ribu memerlukan ongkos Rp80 ribu per lembarnya," jelasnya.
 
Kapolres Kediri Kota AKBP Budi Herdhi Susianto membenarkan jika uang palsu ciptaan Choirul nyaris mendekati sempurna. "Untuk membedakanya saya saja sempat kesulitan," ujarnya kepada wartawan.

Budi justru curiga ketrampilan Choirul dalam mencetak uang palsu memiliki benang merah dengan latar belakang istrinya.

Informasi yang dihimpun, Farida tidak lagi bekerja sebagai pegawai BII di Jakarta karena dipecat. Diduga wanita yang memilih bungkam itulah sebagai mentor suaminya di dalam mencipta uang palsu.

"Kami masih mendalami hal ini, termasuk apa penyebab istrinya dipecat dari pekerjaan lamanya. Informasi yang kami peroleh, uang yang diproduksi pelaku per harinya mencapai nilai jutaan," terangnya.

Polisi juga mendalami kabar adanya orang-orang yang kerap bertamu di rumah pelaku. Selain diduga peredarannya dilakukan secara sindikat, polisi ingin memastikan keterkaitan dengan pesta politik tahun ini.

"Karena bisa saja uang tersebut akan banyak beredar pada pemilu nanti. Karenanya, kami masih melakukan penyelidikan," pungkasnya.

(Risna Nur Rahayu)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya