Kisah Pelanggan Dolly yang Jadi 'Pahlawan' bagi PSK

Nurul Arifin, Jurnalis
Rabu 21 Mei 2014 18:27 WIB
Ilustrasi (Dok Okezone)
Share :

SURABAYA - Ada sejuta kisah seiring berdirinya lokalisasi Dolly di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. Datang ke lokalisasi tersebut rupanya tidak semata-mata memenuhi hasrat seksual untuk cinta satu malam dengan para PSK, tapi ada juga sisi-sisi kemanusiaan para pelanggan melihat nasib para penjaja cinta.
 
Salah satu pelanggan lokalisasi Dolly berinisial S ini mengaku sering berada di lokalisasi tersebut. Bahkan, S mengaku sudah memiliki 'cem-ceman' seorang PSK di Wisma Dollywood. Berada di tempat pelacuran itu, S sering mendengar cerita-cerita miris para PSK sebagai penjaja cinta. Bahkan, ketika ada PSK kenalannya itu kesusahan, tak canggung-canggung mereka menghubungi pria yang bekerja di Surabaya ini.
 
"Jangan dikira mereka menjadi PSK itu memiliki uang yang melimpah. Hanya dengan melayani para lelaki kemudian mendapatkan sejumlah uang. Justru mereka tersiksa batin karena terikat dengan para mucikari," kata S saat berbincang dengan Okezone, Rabu (21/5/2014).
 
Pria berperawakkan klimis ini memiliki kebiasaan yakni tidak akan menghapus nomor kontak seorang PSK yang telah disimpan dalam handphone-nya. Suatu ketika ada salah satu PSK Dolly yang menghubunginya dan memintanya datang ke lokalisasi tersebut.
 
Karena saat dihubungi S tidak dalam keadaan sibuk maka langsung datang ke wisma yang dimaksud. "Saya juga kaget dia (PSK) ini lama tidak bertemu di Dolly, suatu ketika menghubungi saya. Katanya kangen dan meminta untuk datang ke tempatnya itu," ujarnya.
 
Hingga akhirnya, S pun mem-booking PSK yang menggunakan nama Cicik asal Jawa Barat itu. S memang mengenal Cicik sudah lama. Saat berduaan di dalam kamar tersebut, Cicik banyak bercerita terkait kehidupanya di Dolly. Menurut S, PSK ini sering mendapat perlakukan tidak adil dari pengelola wisma. Bentuknya adalah rekap pelanggan tidak sesuai.
 
"Pemilik Wisma seperti menipu PSK ini. Misalnya, dalam sehari mampu melayani 10 orang pria ternyata dalam buku rekapan hanya dicatat 5 orang saja. Imbasnya adalah saat menerima honorpun sedikit," katanya.
 
Pembagian honor bagi PSK itu, kata S tidak adil. Para PSK hanya mendapat bagian 35 persen dari tarif kencan. Di lokalisasi Dolly sendiri tarif kencannya sekitar Rp150 ribu hingga Rp300 ribu. Saat bersama S itu, Cicik mengaku kesulitan untuk membeli baju. Sebab, membeli baju, celana dalam dan bra melalui seorang mucikari harganya selangit. Terkadang, baju dipasaran seharga Rp50 ribu, PSK tersebut membeli melalui mucikari seharga Rp150 ribu hingga Rp200 ribu.
 
Atas kondisi itulah, S mengaku terketuk hatinya untuk membantu sang PSK ini. Ia pun meminta kepada Cicik untuk mendata sejumlah rekan-rekan sesama PSK yang membutuhkan baju, celana dalam dan bra. S membantu akan membelikan diluar sesuai dengan harga yang ada.
 
"Saya kemudian membelikan di Pasar Keputran kebutuhan itu. Dan saya datang ke Dolly masuk ke wisma membawa tas berisi baju, celana dalam dan bra. Pemilik wisma tidak curiga karena memang saya sering ke situ," ujarnya.

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya