BANGKOK - Kepala Staf Angkatan Darat Thailand Jenderal Prayuth Chan-Ocha melakukan kudeta pada Kamis 22 Mei 2014. Prayuth kemudian menunjuk dirinya sendiri sebagai Perdana Menteri (PM) sementara Thailand.
Sejak Revolusi Siam 1932, Thailand sudah dilanda berbagai kudeta, baik kudeta berdarah maupun kudeta tidak berdarah. Berikut rentang waktu kudeta yang pernah terjadi di Thailand, seperti yang dirangkum Reuters, Sabtu (24/5/2014).
1932: Tahun ini merupakan kudeta berdarah yang juga dikenal dengan sebuta Revolusi Siam 1932, yang menjadi titik balik sejarah Thailand.
Sekelompok perwira militer yang dikenal dengan sebutan "Four Musketeers", melengserkan kekuasaan Raja Prajadhipok dan mengakhiri kekuasaan kerajaan monarki absolut yang sudah berlangsung selama tujuh abad. Dari kudeta ini, muncul konstitusi pertama Thailand dan membuka jalan reformasi sosial dan politik.
1933: Militer melakukan kudeta untuk melengserkan kekuasaan Perdana Menteri Siam pertama setelah 1932, Phraya Manopakorn Nititada. Phraya Phahon yang menjadi tokoh kunci kemudian menjadi perdana menteri kedua Thailand, selama lima tahun.
1947: Di tahun ini militer kembali melengserkan kekuasaan Laksamana Thawan Thamrongnawasawat, yang dipenuhi skandal dan korupsi. Kudeta dipimpin oleh pendiri Partai Demokrat, Khuat Aphaiwong yang kemudian menjadi perdana menteri.
1957: Kudeta tidak berdarah terjadi ketika Raja Bhumibol Adulyadej sedang berada di Lausanne, Swiss. Pelaku kudeta kemudian menunjuk Jenderal Phibunsongkhram sebagai perdana menteri.
1957: Ketika pemilu parlemen 1957 menetapkan kekuasaan Phibunsongkhram, protes massal terjadi di Bangkok dan membuat Raja Bhumibol tidak senang. Akhirnya Jenderal Sarit Thanarat melakukan kudeta dan Pote Sarasain ditunjuk sebagai pemegang kekuasaan sementara.
1958: Pimpinan militer Sarit Thanarat memimpin kudeta di tahun ini. Berkuasanya Sarit, menandai dimulainya kekuasaan era otoritarioan politik Thailand.
1971: Dengan alasan perlunya menekan pihak komunis, Jenderal Thanom Kittikachorn melakukan kudeta terhadap pemerintahannya sediri dan membubarkan parlemen.
1976: Setelah delapan bulan sebelumnya militer melakukan kudeta yang gagal, mereka kembali melakukan kudeta dan melengserkan kekuasaan PM Seni Pramoj. Laksamana Sangad Chaloryu mendeklarasikan dirinya sebagai yang memegang kuasa Dewan Reformasi Administrasi Nasional yang menerapkan status darurat militer di Thailand.
1977: Thanin Kraivichien hanya bertahan memerintah selama satu tahun. Dia dilengserkan melalui kudeta berdarah yang dilakukan oleh orang yang membuat berkuasa, Laksamana Sangad Chaloryu. Thanin dituduh menyalahkan kekuasaan dengan menerapkan aturan represif.
1991: Perdana Menteri Chatichai Choonhavan ditangkap ketika hendak menemui Raja. Saat itu Chatichai bermaksud untuk menunjuk seseorang berseberangan dengan pihak militer, guna mengisi pos Menteri Pertahanan. Kemudian Jenderal Sunthorn Kongsompong naik sebagai pemimpin Thailand.
19 September 2006: Militer membubarkan pemerintah dan mencabut konstitusi 1997. Thaksin Shinawatra yang menjadi perdana menteri saat itu tengah dalam kunjungan ke New York, Amerika Serikat (AS).
Kemudian status darurat diterapkan di Bangkok setelah kudeta. Thaksin akhirnya lengser dan saat ini berada di pengasingan di luar negeri untuk menghindari kasus korupsi yang diarahkan kepadanya.
22 Mei 2014: Jenderal Prayut Chan-Ocha mendeklarasikan kudeta militer setelah berbulan-bulan Thailand dipenuhi ketidakpastian politik. Jenderal Prayuth pun menangkat dirinya sebagai perdana menteri sementara Thailand.
(Fajar Nugraha)