Komunitas Kampus Awasi Pilpres dengan Sistem IT

Mohammad Saifulloh, Jurnalis
Minggu 06 Juli 2014 22:29 WIB
Ilustrasi relawan di TPS (Dok Okezone)
Share :

JAKARTA - Founding Fathers House (FFH) bersama komunitas kampus dari berbagai universitas di Indonesia siap mengawal Pilpres 2014 agar berlangsung jujur dan adil, dengan menyebar ratusan relawan ke sejumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS).
 
Mereka ditugaskan untuk melakukan penelitian dan pengawasan dengan menggunakan teknologi informasi (IT) dengan aplikasi Matar (Mata Rakyat). Matar sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti ibu pertiwi.
 
“FFH dan komunitas kampus akan mengawasi jalannya pemungutan suara di TPS-TPS menggunakan gadget berteknologi tinggi. Dengan aplikasi sistem Matar yang kami ciptakan khusus untuk mengawasi jalannya pemungutan suara, maka kecurangan dan data otentik di lapangan dapat diperoleh real time,” ujar Sekjen FFH, Syahrial Nasution melalui keterangan tertulis, di Jakarta, Minggu (6/7/2014).
 
Civitas akademika yang dilibatkan dalam program ini berasal dari Universitas Negeri Semarang (Unes), Universitas GadjahMada (UGM) Yogyakarta, Universitas Diponegoro (Undip), Universitas PGRI Semarang, Universitas Stikubank Semarang, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Universitas Brawijaya (UB) Malang, Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), IAIN Sunan Ampel Surabaya,  ITS, Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN) Jatim, dan Universitas Trunojoyo Madura (UTM).
 
Syahrial menjelaskan, aplikasi sistem Matar yang diciptakan FFH akan mampu mendata tingkat partisipasi pemilih, merekam aktivitas di TPS, kecenderungan pemilih (exit poll) dan perhitungan quick count. Berbeda dengan sistem pengawasan dan survei yang dilaksanakan secara manual, aplikasi sistem Matar berbasis GPS dan GPRS. Pendataan responden juga sangat ketat karena menampilkan foto dan sidik jari.
 
“Termasuk aktivitas recording pada setiap penandatanganan berita acara hasil pemungutan suara oleh petugas TPS, pengawas dan saksi. Termasuk jika ada kejadian luar biasa. Sehingga, dengan penandaan GPS dan sistem berjenjang dalam pengiriman data berbasis GSM, diharapkan tidak akan ada manipulasi baik secara metodologi maupun akurasi data,” urainya.
 
Menurut Syahrial, target FFH dan komunitas kampus melaksanakan penelitian dan pengawasan pemungutan suara Pilpres 2014 berbasiskan IT adalah untuk mengawal kualitas demokrasi agar berlangsung jujur dan adil.  Sehingga, keberhasilan penelitian dan pengawasan Pilpres 2014 berbasiskan IT ini dapat mendorong dilaksanakannya e-voting pada Pemilu 2019.
 
“Pemilu di India dimana pemilihnya mencapai 800 juta orang, sudah mampu menggunakan e-voting. Kualitas demokrasi pelaksanaan pemilunya menjadi jauh lebih baik. Jadi,  tidak ada alasan di Indonesia tidak dapat dilaksanakan. Dan rakyat jangan lagi harus mendengar ribut-ribut urusan KPU yang selalu dinilai lambat soal pengiriman logistik pemilu setiap lima tahun,” kata Syahrial.
 
Peniliti Senior FFH Dian Permata menambahkan, lebih dari 400 relawan yang berasal dari komunitas kampus akan disebar ke ratusan TPS yang rentan terhadap kecurangan dan potensi tarik-menarik suara di Jawa Tengah, Yogyakarta dan JawaTimur. Penempatan ratusan relawan peniliti dan pemantau di wilayah tersebut berdasarkan hasil survei terakhir FFH yang menunjukkan tingginya jumlah pemilih dan kuatnya tarik-menarik suara di antara kandidat presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
 
“Pasangan Jokowi-JK dalam beberapa kali survei FFH dan survei yang diumumkan lembaga lainnya selalu menempati posisi suara tertinggi di Jawa Tengah dan DIY. Di JawaTimur, Jokowi-JK juga didukung Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dan mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi. Sementara pasangan Prabowo-Hatta dengan modal dukungan partai koalisi yang besar dan Ketua Tim Sukses Mahfud MD yang dekat dengan ulama kharismatik NU juga punya modal kuat meraih simpati suara publik. Sehingga, FFH berkesimpulan bahwa penentu kemenangan dua kandidat presiden tersebut ada di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur,” papar Dian.
 
Ditambahkan,  dengan pemantauan yang  dilakukan FFH dan komunitas kampus melalui penggunaan system informasi dan teknologi Matar, akan diketahui sejauh mana kecenderungan pemilih terhadap kandidat dan berapa besar partisipasi publik terhadap proses demokrasi yang berlangsung.
 
“Responden yang faktual karena menampilkan data diri yang lengkap termasuk foto dan sidik jari, membuat akurasi penelitian dan pengawasan yang dilakukan FFH dan komunitas kampus menjadi sangat kredibel. Dan hasilnya pun akandidapatkan real time,” ujar Dian.

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya