SEMARANG - Seratusan warga Deliksari, Gunungpati, Semarang, mengalami krisis air bersih di musim kemarau tahun ini. Imbasnya, mereka harus mengantre mengambil air dari satu-satunya sumber air yang ada di tengah kampung.
"Sudah dua minggu lebih merasa begini. Harus antre mendapat air bersih," ujar seorang warga, Patini, saat ditemui di desanya, Selasa (9/9/2014).
Menurut janda berusia 48 tahun itu, tiap warga yang mengantre hanya boleh mengambil dua jeriken air. Bila ingin mengambil air lagi, warga harus mengulangi antrean.
"Dijatah dua pikul karena bergantian. Bisa ambil air lagi kalau mengantre lagi," terangnya.
Desa Deliksari terletak di dataran paling tinggi Semarang dan dihuni seratusan warga yang tergolong miskin. Pada musim kemarau, Deliksari termasuk yang paling parah mengalami kekeringan dibanding daerah lain di Semarang.
Akses menuju Deliksari menanjak dengan jalan desa sempit berbatu tanpa aspal. Dari Kantor Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, di Jalan Pahlawan, Semarang, Desa Deliksari bisa ditempuh dengan waktu sekira 20 menit dengan jarak 15 sampai 20 kilometer.
Patini mengaku jalan menuju Deliksari memang sulit. Bahkan, kata dia, jalanan berbatu dan menanjak, menyulitkannya memikul jeriken air. "Kesulitan di desa ini soal air dan jalan. Pemerintah seperti tidak ada kalau sudah masuk di Deliksari," ungkap Patini.
Menurut Patini, kekeringan di tiap musim kemarau sudah menyerang warga Deliksari sejak tahun 1989. Padahal tahun-tahun sebelumnya, air masih melimpah meski musim kemarau.
"Kalau enggak kemarau banget, air masih ada. Dulu air masih bisa masuk ke rumah-rumah. Ini sekarang tergantung tabungan di tower," kata dia seraya menunjuk ledeng setinggi satu meter.
(Risna Nur Rahayu)