JAKARTA - Pelantikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pada Senin 20 Oktober lalu menjadi puncak pesta demokrasi yang begitu gegap gempita di Indonesia.
Namun hingga saat ini, sang Presiden belum juga menunjukan kinerjanya. Nama-nama menteri yang akan mengisi kabinetnya pun belum juga terucap dari bibir mantan Gubernur DKI ini.
Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Agung Suprio mengatakan, Jokowi harus segara menghentikan seremonial politiknya. Menurutnya, serangkaian acara tersebut hanya pemborosan yang tak jelas.
"Seremonial politik ini pemborosan, tidak jelas outputnya. Sementara outputnya yakni pengumuman nama-nama kabinet, tidak ada," ujar Agung saat berbincang dengan Okezone, Jumat (24/10/2014).
Jokowi harus memahami kondisi bangsa Indonesia. Menurut Agung, rakyat saat ini tengah haus dengan sosok yang sederhana. Rakyat tidak memerlukan banyak seremonial yang memboroskan uang.
"Bangsa ini butuh suri teladan kesederhanaan. Terlepas sumber dana yang digunakan untuk perayaan merupakan sumbangan masyarakat ataupun dari sponsor, rangkaian seremonial tesebut hanya menghamburkan uang. Tim Jokowi juga harus berpikir hal serupa," ungkapnya.
Agung berharap Jokowi mengumumkan susunan kabinetnya di tempat yang selayaknya dan tanpa mengeluarkan dana besar. "Cukup umumkan menteri di Istana Merdeka, kemudian setelah itu bekerja!" tegasnya.
Menurutnya, jika Jokowi kembali melakukan seremonial politik saat mengumumkan nama kabinet justru akan membuat publik jenuh dan dapat mengancam citra kesedarhanaannya. "Jangan buat seremoni politik lagi. Saya kira ini akan membuat dukungan kepada Jokowi turun," terangnya.
Diketahui, usai menggelar pesta Syukuran Rakyat, Jokowi lagi-lagi membuat heboh untuk mengumumkan susunan kabinet. Pelabuhan Tanjung Priok yang awalnya diduga menjadi tempat Jokowi mengumumkan kabinet, telah disulap menjadi tempat mewah dengan panggung besar dan hiasan lampu warna-warni.
(fid)
(Dede Suryana)