Rumah makan tersebut ikut dibongkar karena kedapatan menjual minuman keras. Namun, karena saat pembongkaran pemiliknya sedang berjualan, maka segala makanan dan minuman yang ada di rumah makan itu “disikat” oleh aparat terlebih dahulu hingga ludes.
"Sebelum kita bongkar, silahkan dimakan dulu. Kita bayar semua makanannya. Itung-itung makan siang," tegas Dedi, Rabu (24/12/2014).
Selain para pegawai, banyak warga yang memanfaatkan momen teresebut. Mereka ikut makan bersama-sama sebelum banguanan tersebut dibongkar.
Dedi menyebutkan, setelah melihat dan langsung terjun ke lapangan, dirinya mengaku miris dan prihatin, karena peredaran miras di wilayah kerjanya sudah semakin merajalela.
Bahkan, banyak penjual miras yang berkedok usaha lain seperti bengkel, warung nasi dan toko jamu. Tak heran jika masyarakat bisa membeli miras dengan sangat mudah.
Sementara itu, Rizal Geony, pemilik RM Padang Lubuak Rayo yang digusur aparat, mengaku hanya bisa pasrah dengan pembongkaran ini. Dirinya juga tak tahu harus pindah kemana, mengingat sudah berjualan di lokasi cukup lama tepatnya tahun 2003 lalu.
"Saya bingung, harus pindah kemana," ujar Rizal Geony dengan pasrah.
(TB Ardi Januar)