Pada masa kemerdekaan, santri menjadi harapan perjuangan bangsa melepas dari belenggu penjajahan. Banyak Pondok Pesantren menjadi pos-pos pejuang dalam menyusun strategi hingga penyerangan bahkan menjadi balai pengobatan bagi yang terluka.
"Keberadaannya menjadikan banyak orangtua menaruh perhatian khusus bagi putra-putrinya untuk dititipkan di Pondok Pesantren," ungkap tim monitoring Kementerian Agama, Edy A Effendi, Sabtu (9/5/2015).
Dia menambahkan, masa kini setelah kemerdekaan santri mendapat tantangan yang cukup membuat eksistensinya terpinggirkan. Masyarakat mulai menilai pendidikan keagamaan menjadi bukan hitungan pertama.
Menurutnya, pengaruh kehidupan matrealistis dan hedonis merupakan hal populer sebagai tujuan hidup menggeser pendidikan sekuler menjadi prioritas. Prospektif pendidikan keagamaan terpojokkan dengan sendirinya oleh berbagai profesi yang menghambat laju produktifitasnya.
"Beberapa profesi strategis yang tidak berafiliasi dengan karakteristik santri, sangat terbuka menolak ijazah-ijazah keagamaan yang notabene berlatar belakang santri pondok pesantren dari dunia kerja. Masyarakat mulai menganggap pendidikan pesantren sudah tidak sesuai dengan kebutuhan hidup masa sekarang," paparnya.