Plus-Minus Muktamar NU dan Muhammadiyah

Qur'anul Hidayat, Jurnalis
Jum'at 07 Agustus 2015 07:24 WIB
ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)
Share :

JAKARTA - Kedua ormas Islam, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sudah menetapkan pimpinan yang baru untuk masa kepengurusan lima tahun ke depan. KH Said Aqil Siraj terpilih sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU 2015-2020 dan Muhammadiyah akan dinakhodai Haedar Nashir hingga 2020 mendatang.

Meski dilaksanakan hampir bersamaan, dua muktamar itu menyisakan dua kesan berbeda. Jika Muktamar Muhammadiyah berjalan adem ayem, lain halnya dengan Muktamar NU yang berlangsung alot bahkan diwarnai kegaduhan antar-kaum nahdiyin.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Agung Suprio menjelaskan tentang nilai yang bisa diambil dari situasi di dua muktamar tersebut.

Kata Agung, di balik kegaduhan Muktamar NU, muncul kiai atau pemuka organisasi yang bisa diandalkan dalam mendamaikan kader-kadernya. Paling menonjol adalah Kiai Maimun Zubair (Mbah Mun) dan Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus).

"Muhammadiyah memang lebih rapi dan NU kurang rapi. Namun, kalau dilihat dari konfliknya, di NU justru menimbulkan hikmah bahwa ulama memegang peranan penting untuk mendamaikan massa yang berkonflik," ungkap Agung kepada Okezone, di Jakarta, Jumat (7/8/2015).

Minus dari kerapian Muktamar Muhammadiyah, lanjut Agung, adalah tidak munculnya figur yang menonjol dari acara yang digelar lima tahunan itu.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya