"Di Muhammadiyah karena rapi jadi tidak ada hikmahnya. Tidak ada figur yang dominan karena rapi jadi tidak muncul," ungkap Agung.
Meski begitu, Agung mengingatkan NU untuk kembali ke khittohnya dan menjauhi politik praktis yang menjadi jurang kehancuran sebuah organisasi. Setiap elite di NU diminta untuk lebih bijak dalam melihat persoalan.
"Masing-masing elite di NU harus merendahkan hatinya dan berkomitmen untuk tidak terjebak politik praktis," tandasnya.
Diketahui, Muktamar NU sempat diwarnai kegaduhan saat membahas tata tertib BAB V Pasal 14 tentang pimpinan dan BAB VII Pasal 19 tentang pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Ketegangan mereda setelah Gus Mus langsung turun tangan menenangkan para muktamirin.
(Rizka Diputra)