Saat di depan rumah mempelai pria, dilakukan prosesi “Wasuhan” dan “Wiji Dadi” atau memecah telur. Kemudian, rombongan Reog mengantar pengantin ke pelaminan.
Sama seperti prosesi pernikahan yang banyak digelar di berbagai wilayah Pulau Jawa, rangkaian berikutnya diteruskan proses “sungkeman” atau meminta restu kedua orangtua.
Saat mempelai sudah sampai di kursi pelaminan, rombongan Reog menggelar pentas utamanya. Seiring perkembangan zaman, proses pernikahan “Ponorogan” ini mulai jarang digelar.
Karena membutuhkan biaya besar dan tempat yang luas. Dua mempelai, Vidra dan Prisilia mengaku memilih prosesi langka ini sebagai wujud kecintaan mereka pada seni Reog.
Bimo, Seniman Reog yang ikut dalam prosesi ini juga berharap agar adat pengantin khas Ponorogo ini bisa terus terjaga agar tidak punah dan kalah dengan kesenian asing.
(Randy Wirayudha)