Sebagai bagian dari tahapan metamorfosis, kupu-kupu memiliki waktu hidup hanya dua bulan saja. Jika tidak dikonservasi, ragam spesies kupu-kupu asli Indonesia akan terancam punah. Untuk itu, rekayasa habitat menjadi salah satu solusi jitu untuk mempertahankan spesies kupu-kupu khas Indonesia.
Jika membahas tahapan metamorfosis seekor kupu-kupu, tahap awalnya adalah seekor ulat. Sepintas memang wujud ulat menyeramkan, hitam legam dengan duri-duri runcing. Kulitnya kasar tebal membuat orang enggan melirik apalagi menyentuhnya. Namun, seiring berjalannya waktu, ulat itu bermetamorfosis. Berubah menjadi kepompong dan akhirnya menjelma menjadi kupu-kupu cantik.
Bicara kupu-kupu asli Indonesia, ada spesies kupu-kupu asli Indonesia yang terkenal bernama Troides Helena. Dengan ciri-ciri bersayap hitam dengan warna kuning di bagian bawahnya. Jika beruntung, Anda bisa melihat bentangan sayapnya yang lebar hingga mencapai belasan sentimeter.
Kupu-kupu khas Indonesia ini dapat ditemui di berbagai wilayah. Seperti di Pulau NiasEnggano, Jawa, Bawean, Pulau Kangean, Bali, Lombok, (Natuna), Sulawesi dll. Namun, jika ingin melihat dari dekat keindahan Troides Helena, Anda bisa mengunjungi Taman Kupu-Kupu Gita Persada di Kawasan Hutan Raya Wan Abdul Rachman, Gunung Betung, Lampung.
Di tempat ini para pegiat Yayasan Sahabat Alam, yang dikomando Dr Herawati Soekardi, memberikan tempat pendidikan, penelitian, wisata serta konservasi kupu-kupu. Tahapan metamorfosis kupu-kupu secara lengkap bisa dilihat di tempat ini. Mulai dari telur, ulat (larva), kepompong hingga kupu-kupu. Herawati sengaja membuat dome atau rumah besar berdinding jaring sebagai tempat untuk melihat dari dekat keanekaragaman kupu-kupu.
Pengalaman baru dan seru pasti dirasakan setiap orang yang berkunjung ke tempat ini. Ada 177 spesies kupu-kupu yang dikonservasi salah satunya Troides Helena, atau sering disebut sebagai kupu-kupu raja. Pertamina menunjukkan keperduliannya dalam upaya Yayasan Sahabat Alam menjaga siklus hidup dan keragaman spesies kupu-kupu dengan menggunakan sistem rekayasa habitat. Yakni menanam berbagai jenis tanaman inang dan tamanam pakan bagi kupu-kupu.
Sejak 2013, Taman Kupu-kupu Gita Persada bersama PT Pertamina (Persero) telah menanam 10.000 ribu tanaman yang disukai kupu-kupu, di Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman. Terdiri dari 4.000 tanaman konservasi kupu-kupu, 4.000 tanaman konservasi satwa liar dan 2.000 tanaman penyangga. Selain itu, juga memberikan dukungan untuk program pelatihan konservasi, pembuatan taman serta alat penangkaran kupu-kupu.
Program berjangka lima tahun ini akan dilanjutkan dengan penanaman 10.000 pohon sebagai upaya konservasi hutan dan habitat kupu-kupu pada 2015.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro mengatakan selain membantu penyerapan karbondioksida, penamanan pohon dengan sistem rekayasa habitat di Taman Kupu-kupu Gita Persada sekaligus mendukung pelestarian spesies kupu-kupu langka.
Dan menurut Herawati, upaya penanaman aneka ragam pohon yang didukung Pertamina sudah jelas telah membantu keberlanjutan kehidupan kupu-kupu.
Dia menambahkan, kupu-kupu merupakan mata rantai pertama dalam ekosistem, karena menjadi sumber pakan pertama dalam mata rantai makanan. Adanya kupu-kupu akan memancing satwa lain datang sehingga meningkatkan keanekaragaman hayati.
“Hal ini menjadi gambaran bahwa dalam menjalankan operasinya, Pertamina juga memperhatikan pengelolaan lingkungan baik yang dipersyaratkan, maupun melebihi yang dipersyaratkan, khususnya dalam upaya mendukung Konservasi Keanekaragaman Hayati,” pungkasnya.
(Susi Fatimah)