YOGYAKARTA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogya menyebut prostitusi di lokalisasi Pasar Kembang (Sarkem) yang berada di Sosrowijayan Kulon, Gedongtengen ilegal. Hal ini disebabkan tidak pernah ada izin prostitusi yang dikeluarkan oleh Pemkot Yogyakarta untuk lokalisasi tersebut.
Kepala Bidang Penegakan Perda Satuan Tuga Pamong Praja (Satpol PP) Kota Yogyakarta, Udiyono menegaskan, dengan ilegalnya praktek prostitusi yang berada di kawasan Sarkem, sehingga, tidak ada retribusi yang masuk ke Pemkot Yogyakarta.
"Prostitusi di Sarkem itu ilegal, kami belum pernah memberi izin soal prostitusi yang berada di sana. Tidak ada tempat resmi praktek prostitusi di Kota Yogyakarta," katanya, Jum'at (4/3/2016).
Pihaknya mengaku kesulitan dalam melakukan penertiban kawasan itu dari praktek prostitusi. Sebab, tidak ada dasar yang jelas dalam menegakan aturan yang ada. "Kalau dilakukan di tempat umum, jelas tidak dibenarkan dan bisa ditindak. Yang kita ketahui, mereka itu kan hanya duduk di gang," jelasnya.
Meski demikian, pihaknya siap melakukan razia dan penertiban sesuai peraturan yang ada. Regulasi yang ada, tidak memungkinkan pemerintah melakukan penertiban di rumah pribadi. "Regulasi yang ada belum cukup untuk menutup Sarkem," bebernya.
Tidak ada keharusan pemerintah untuk menutup kawasan Sarkem. Sebab, pemerintah sendiri belum pernah sekalipun memperbolehkan praktik prostusi di kawasan itu. "Yang jadi pertanyaan, kita belum pernah membuka, lalu kenapa harus menutup," katanya dengan nada tanya.
Kawasan Sarkem berbeda dengan lokasi prostitusi tempat lain seperti Kalijodo, Jakarta maupun Dolly di Surabaya. Perumahan yang berada di Sarkem merupakan tempat tinggal milik warga yang disewakan orang lain untuk kepentingan bisnis hiburan.
Sementara, Ketua RW 3 Sosrowijayan, Sarjono, tak ingin Sarkem disebut tempat prostitusi, tapi tempat pemukiman. "Sarkem bukan prostitusi, tapi pemukiman warga," katanya.
Meski tempat pemukiman, dia mengakui kawasan itu dipergunakan sebagai tempat prostitusi. Sebagian besar perempuan para pekerja seks komersial (PSK) berasal dari luar Yogyakarta. "Ya memang ada (PSK), kebanyakan dari luar," katanya.
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga rutin melakukan pemeriksaan secara berkala pada para perempuan yang berprofesi sebagai PSK. Harapannya, jika ada yang terdeteksi penyakit seperti HIV/Aids segera dilakukan pengobatan.
(Fransiskus Dasa Saputra)