Jokowi Bikin Kesepakatan Bilateral dengan Libya

Silviana Dharma, Jurnalis
Senin 07 Maret 2016 16:33 WIB
(Foto: Antara)
Share :

JAKARTA - Pertama kalinya dalam sejarah, Presiden Indonesia Joko Widodo bertemu muka dengan Perdana Menteri Pemerintahan Nasional Gabungan Libya Faiz Al Serraj, yang mewakili Libya usai digulingkannya presiden diktator Muammar Abu Minyar al-Qaddafi pada Arab Spring 2011.

Pertama-tama, RI 1 mengucapkan selamat kepada Y.M. Faiz Al Serraj atas keterpilihannya sebagai PM Pemerintahan Nasional Gabungan Libya yang baru. Terkait situasi politik di Libya, Jokowi meyakinkan akan aktif membantu Faiz mengarungi masa rekonsiliasi maupun transisi negaranya menuju demokrasi.

"Tadi saya ketemu sama PM Baru Libya, ya pertama saya ucapkan selamat atas terbentuknya Pemerintah Nasional Gabungan terbaru yang ada di sana. Kami juga buat beberapa kesepakatan bilateral, karena Libya juga mau membuka diri untuk kerja sama. Terutama, mereka mau belajar demokrasi dari pengalaman Indonesia," ungkap Jokowi kepada awak media ketika ditemui di sela kesibukannya menerima pertemuan bilateral dengan sejumlah peserta Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (KTT LB OKI) 2016 di JCC Senayan, Jakarta pada Senin (7/3/2016).

Perihal pengalaman Demokrasi, Jokowi berujar sudah berbagi pengetahuan soal pemilu Presiden hingga walikota dan gubernur maupun daerah di Indonesia.

Dalam siaran pers yang diterima Okezone, Senin (7/3/2016), kedua negara juga mengangkat isu bilateral mendorong kerja sama capacity building di Libya, terutama dalam bidang demokrasi, mendorong keterlibatan sektor swasta agar aktif dalam perdagangan antar kedua negara, serta mendorong eksplorasi dan investasi pengusaha Indonesia di sektor energi dan migas, juga ekspor produk komoditas dari Indonesia ke Libya.

Indonesia dan Libya sendiri sudah cukup lama berhubungan. KBRI di Tripoli mencatat sedikitnya ada 120 warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Libya saat ini.

Namun begitu, dalam hal perdagangan nilainya sempat menurun drastis akibat konflik di negara yang dijuluki bangsa Arab sebagai kebun Allah tersebut. Dari yang tadinya pada 2012, nilai perdagangan dengan Libya mencapai USD576,5 juta, pada 2014 menjadi USD94,45 juta dan pada 2015 semakin menukik ke bawah, yakni sebesar USD28,1 juta.

Padahal kedua negara saling bergantung dalam ekspor impor minyak dan gas bumi, jasa konstruksi, perdagangan dana investasi dan pengiriman tenaga kerja profesional.

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya