SHOTGUN adalah salah satu jenis senjata konvensional yang paling dikenal luas di dunia. Senjata yang juga dikenal dengan nama scattergun ini biasanya diidentikkan dengan daya rusak dan kekuatan tembaknya yang besar terutama dari jarak dekat, hasil dari penggunaan amunisinya yang khas.
Dalam pertempuran modern, penggunaan shotgun militer atau combat shotgun terus mendapat tempat. Baik untuk menjebol pintu, pertempuran jarak dekat, ataupun untuk pengendalian massa. Senjata ini telah ikut ambil bagian dalam berbagai konflik di seluruh dunia dari zaman ke zaman.
Meski combat shotgun yang digunakan saat ini dianggap mumpuni untuk digunakan di berbagai situasi, namun perkembangan teknologi menghadirkan beberapa shotgun canggih yang telah digunakan atau mungkin akan digunakan di masa depan.
Beberapa dari shotgun generasi baru ini bahkan sudah ada yang dikenal umum, karena muncul di berbagai kultur populer seperti film atau video game, meski penggunaannya belum terlalu luas.
Berikut beberapa combat shotgun tercanggih yang dirangkum dari berbagi sumber:
1. UTAS UTS-15
UTS-15 adalah combat shotgun 12 gauge yang dikembangkan oleh perusahaan persenjataan Turki, UTAS pada 2012. Berbeda dengan combat shotgun konvensional, UTS-15 dilengkapi dengan dua magasin yang masing-masing berkapasitas tujuh peluru.
Penggunaan dua magasin ini, selain membuat UTS-15 memiliki kapasitas dua kali dari shotgun normal, juga mengizinkannya menggunakan dua jenis shell (peluru shotgun) yang berbeda, sehingga UTS-15 dapat secara cepat mengganti peluru dari buck shot (peluru berisi bola-bola kecil) menjadi slug (peluru berisi proyektil padat) atau dari peluru mematikan menjadi peluru yang tidak mematikan hanya dengan menggeser magasin.
Meski begitu, UTS-15 memiliki kelemahan karena dibuat dari polymer atau plastik yang mudah rusak, dan membuatnya memiliki isu pada ketahanan.
2. Kel-Tec KSG-12
Seperti juga UTS-15, Kel-Tec KSG-12 juga memiliki fitur dual magazine yang memungkinkan penggantian shell atau jenis peluru yang digunakan. Combat shotgun yang diproduksi Kel-Tec CNC Industries Inc. Amerika Serikat (AS) pada 2011 ini juga dibuat dengan bahan polymer seperti juga UTS-15.
Tanggapan mengenai senjata ini beragam, sebagian menyukai desain apik hasil rancangan George Kellgren yang digunakan Kel-Tec KSG-12 ini, sebagian tidak mendapatkan masalah dalam penggunaannya, namun sebagian lagi mengalami kendala seperti saklar pengganti magasin yang macet, sampai double feed yang menyebabkan senjata macet.
Seperti juga UTS-15, penggunaan polymer membuat Kel-Tec memiliki masalah pada ketahanan.
3. Atchisson Auto Assault-12
Seringkali digadang-gadang sebagai combat shotgun paling mematikan yang pernah dibuat, Atchisson Auto Assault (AA)-12 memang memiliki berbagi fitur yang membuatnya terlihat overpower.
AA-12 merupakan shotgun otomatis yang dapat menembakkan 300 peluru dalam semenit. Untuk sebuah shotgun otomatis, AA-12 memiliki recoil atau hentakan yang relatif kecil sehingga akurasinya tetap terjaga.
Combat shotgun ini dapat menggunakan dua jenis magasin, satu berbentuk kotak (box) yang memuat delapan peluru, dan satu lagi berbentuk drum, yang berkapasitas 32 peluru.
Satu-satunya kelemahan dari AA-12 mungkin adalah senjata ini terlalu berbahaya, yang mungkin menjadi alasan kenapa militer AS enggan menggunakannya.
Dalam keadaan perang yang melibatkan warga sipil, penggunaan AA-12 dalam mode full auto, bergantung pada jenis amunisi yang digunakan, senjata ini dikhawatirkan dapat membunuh target yang salah.
4. Franchi SPAS-12
Diantara combat shotgun lainnya dalam daftar ini, Franchi Special Purpose Automatic Shotgun (SPAS) -12 adalah senjata paling lawas yang saat ini bahkan telah berhenti diproduksi. Meski begitu, SPAS-12 dan penerusnya SPAS-15 mungkin merupakan combat shotgun paling dikenal di seluruh dunia.
SPAS-12 yang diproduksi dari 1979 sampai 2000 oleh produsen senjata Italia, Franchi adalah combat shotgun 12 gauge berkapasitas enam shell yang memiliki dua mode penggunaan, semi otomatis dan pump action (kokang).
Shotgun ini begitu populer dan digunakan oleh pasukan khusus di setidaknya 20 negara dunia, salah satunya Indonesia. Pemilikan senjata ini sempat dilarang bagi warga sipil AS pada 1994 sampai larangan itu dicabut pada 2004.