"Temuan ini penting dari sisi akademis, karena dengan temuan tengkorak zaman sejarah atau masa klasik ini bisa mengisi potongan evolusi marfologi manusia dari zaman prasejarah, masa klasik hingga sekarang menjadi manusia modern seperti sekarang," kata Toetik.
Sementara, Kasi Pelestarian Purbakala dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung Tri Nugraha mengatakan, ada sekira lima tengkorak yang ditemukan warga di sekitar bantaran Sungai Brantas, Desa Pulotondo, Kecamatan Ngunut.
"Ditemukan sekitar dua pekan lalu oleh para penambang pasir tapi kemudian dipendam lagi karena takut dengan hal-hal mistis yang diyakini masyarakat sekitar," ujarnya.
Sebagaimana Toetik, Tri Nugraha belum bisa memastikan usia maupun asal-usul tengkorak. Ia hanya mengonfirmasi sebelum penemuan tengkorak pihaknya sempat menemukan beberapa situs seperti sumur kuno serta ambang pintu terbuat dari batu dengan usia tertera tahun 1.058 tahun Saka atau 1.136 Masehi.
"Tim BPCB (Balai Purbakala dan Cagar Budaya) Jatim juga telah ke sini untuk meneliti temuan warga dan mengkonfirmasi berdasar tulisan pada situs ambang pintu berasal dari zaman prabu Jayabaya Kerajaan Singasari," ujarnya.
(Arief Setyadi )