LONDON – Duta Besar RI untuk Inggris, Rizal Sukma, mengatakan perkembangan yang terjadi di kawan Asia Tenggara mempunyai potensi mempolarisasi hubungan antar negara ASEAN.
"Apabila ini terjadi, maka posisi ASEAN kemungkinkan akan termarjinalisasi" ujar Rizal dalam keynote lecture pada peresmian South East Asia Forum di London School of Economics and Political Science (LSE), di London, Jumat, 13 Mei 2016 waktu setempat yang dihadiri 100 orang lebih berasal perwakilan kedutaan asing di London, Kemlu Inggris, UK-ASEAN Business Council, peneliti, mahasiswa, dan berbagai pihak lainnya yang tertarik isu Asia Tenggara.
Lebih lanjut ia mengatakan apabila ASEAN terpolarisasi dan termarjinalisasi, maka akan sulit bagi ASEAN untuk mempertahankan sentralitasnya dalam menjaga tata kelola hubungan antar negara di kawasan.
Dalam sesi utama yang dipandu Profesor Danny Quah yang merupakan Direktur Saw Swee Hock South East Asia Centre, LSE, Rizal yang juga lulusan LSE, memberikan paparan mengenai perubahan kekuatan di Asia Tenggara, regional order, dan posisi Indonesia.
"Saya melihat tiga karakter utama yang berkembang di Asia Tenggara dalam konstelasi hubungan antar negara adalah semakin kuatnya pengaruh China, keberadaan Amerika Serikat (AS), dan persaingan antara RRT dan AS," ujarnya.
Menurut Dubes Rizal, China dengan kekuatan ekonominya sangat berpengaruh pada ekonomi negara-neagara ASEAN. China yang terus memperkuat militernya juga menunjukkan keinginan China dapat diakui sebagai negara dengan kekuatan global.
Di sisi lain AS, sudah sejak lama mempunyai pengaruh yang kuat di kawasan dan untuk mengimbangi berkembangnya pengaruh China, Trans Pacific Partnership (TPP) merupakan salah satu instrumen yang digunakan AS.