YOGYAKARTA – Minuman keras (miras) oplosan kembali memakan korban nyawa di Yogyakarta. Periode Januari hingga Mei 2016, tercatat ada 45 orang yang harus kehilangan nyawa akibat mengkonsumi miras oplosan. Kasus terakhir, 10 orang tewas usai menenggak miras oplosan di wilayah Bantul dan Kota Yogyakarta.
Lapen merupakan sebutan untuk miras oplosan yang ada di wilayah Yogyakarta, minuman ini diracik secara manual dari bahan-bahan berbahaya yang tidak diduga sebelumnya. Dari data kepolisian, biasanya para penikmatnya mencampur lapen dengan bahan kimia lain, seperti, parfum, pembersih lantai, obat nyamuk cair, hingga pil tidur.
Dikutip dari KRjogja.com, sejarah lapen dari mulut ke mulut ditemukan oleh seseorang bernama Sucipto pada era 90-an. Sucipto adalah tukang becak yang mencoba berkreasi menciptakan miras yang murah meriah. Sucipto meraciknya dari minuman bersoda yang dicampur obat sakit kepala, lalu diberi sedikit cairan pencuci piring. Ramuan itu serentak menjadi ramuan awal lapen.
Nama lapen sendiri diberikan oleh rekan Sucipto yang bernama Bagyo, tukang parkir di wilayah Sostrowijayan, saat minum Bagyo mengucapkan kata, aduh lapen tenan ki, yang artinya langsung pening. Namun, ada juga yang menyebut lapen, merupakan singkatan langsung dari langsung penak (enak).
Semenjak itu, nama Sucipto mulai terkenal di kalangan penggemar miras yang berbudget minim di Kota Yogyakarta. Ia juga kemudian berhenti jadi tukang becak dan focus berdagang lapen.