HPAKANT – Tanah longsor kembali terjadi di penambangan ilegal batu giok di Hpakant, Negara Bagian Kachin, Myanmar. Insiden yang terjadi pada Senin 23 Mei 2016 malam waktu setempat itu menelan sedikitnya 12 korban jiwa.
Tanah longsor diyakini terjadi akibat tingginya curah hujan di Kachin dalam beberapa hari terakhir. Sebanyak 12 jenazah korban berhasil dievakuasi dari tumpukan tanah hingga Selasa 24 Mei siang waktu setempat. Sekira 100 orang lainnya diduga hilang akibat insiden tersebut.
Meski operasional penambangan resmi di area tersebut dihentikan jelang musim hujan, para penambang ilegal masih tetap beroperasi di sekitar tumpukan limbah di Desa Weikha. Saat itulah, menurut anggota Parlemen Myanmar asal Hpakant yakni U Tin Soe, longsor terjadi.
“Penambang ilegal yang bekerja secara individu masih menggali di sana. Itu sangat berisiko,” ujarnya, seperti diwartakan New York Times, Selasa (24/5/2016). Para penambang ilegal itu disebut Soe hanya bisa menggali batu giok di antara tumpukan limbah tambang dengan keahlian serta perangkat keselamatan yang terbatas.
Insiden serupa pernah terjadi pada November 2015. Sebanyak 120 orang tewas setelah longsoran tumpukan sampah menimpa sebuah desa yang dipenuhi gubuk dan tenda milik penambang ilegal di Hpakant.
Wilayah tersebut terkenal sebagai penghasil batu giok berkualitas tinggi di dunia. Batu-batu berkualitas tinggi yang dihasilkan sebagian besar diimpor ke China. Menurut lembaga antikorupsi Global Witness, total nilai produksi batu giok Myanmar mencapai USD31 miliar (setara Rp424,1 triliun) pada 2014. Jumlah itu hampir setengah dari pendapatan nasional Myanmar dari berbagai sektor.
Sayangnya, hasil penambangan tidak dinikmati masyarakat sekitar karena diduga sebagian besar keuntungan selama ini masuk ke kantong Junta Militer Myanmar. Para penambang dan masyarakat sekitar Kachin hanya menikmati bagian kecil dari “kue” tersebut.
(Wikanto Arungbudoyo)