Kedua, kebanyakan RT dan RW adalah warga senior yang telah pensiun. Mereka bersedia menjadi RT dan RW karena punya waktu yang luang. Bahkan, sambungnya, dari segi usia sangat wajar jika sebagian mereka gagap teknologi dan sulit menguasai aplikasi Qlue.
Di sisi lain, sambungnya, para Ketua RT dan RW juga harus bisa bersikap bijak. Mereka tak perlu memboikot Pilgub DKI hanya karena ingin aspirasinya dipenuhi. Ia lebih menyarankan kalau memang tidak suka dengan pemimpinnya, yakni dengan memastikan struktur RT dan RW tidak disalahgunakan untuk kepentingan pencalonan pemimpin tersebut.
"Tidak perlu mereka memboikot Pilgub kalau tidak suka dipaksa memakai aplikasi Qlue. Justru kalau tidak suka dengan pemimpin yang kerap memaksakan kehendak mereka harus bisa memastikan struktur RT dan RW tidak disalahgunakan untuk pencalonan kembali pemimpin tersebut. Mereka juga harus jeli dan waspada agar jangan sampai ada warga mereka yang KTP diklaim sebagai pendukung pencalonan independen," ujarnya.
(Arief Setyadi )