KUPANG – Kekeringan, sebanyak 38.382 dari 255.715 hektare (ha) tanaman jagung di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan mengalami kerusakan.
“Tanaman jagung yang rusak pada musim tanam 2015/2016 ini tersebar di 1.797 desa pada 230 kecamatan yang ada di 20 kabupaten/kota di wilayah NTT, kata Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKP2) NTT, Hadji Husein, Senin (13/6/2016).
Hadji mengatakan, luas tanaman jagung yang rusak sekira 15,01 persen dari luas tanaman jagung yang ada di NTT.
"Hampir semua kabupaten di NTT mengalami kerusakan tanaman jagung kecuali Kabupaten Sumba Barat dan Manggarai, yang belum ada laporan mengenai kerusakan tanaman jagung," ujarnya.
Menurut Hadji, kerusakan tanaman jagung yang paling parah terjadi di Kabupaten Sikka, Flores, dimana hampir seluruh areal tanaman jagung mengalami kerusakan.
Dari 7.346 ha tanaman jagung yang ada di wilayah itu, 6.655 ha atau sekira 90,60 persennya mengalami kerusakan.
Kerusakan terparah berikutnya diderita Kabupaten Lembata. Dari 4.736 ha tanaman jagung di daerah itu, 3.770 ha atau 79,60 persen diantaranya rusak. Sementara, Kabupaten Malaka menempati urusan ketiga kerusakan tanaman jagung yakni dari 7.852 ha tanaman jagung, 3.142 ha atau 40,02 persennya mengalami kerusakan.
“Kabupaten lain yang juga mengalami kerusakan cukup parah adalah Kabupaten Flores Timur yakni 24,79 persen dari 15.784 luas areal tanam yang mengalami kerusakan. Kabupaten Alor 24,42 ha dari luas tanam 8.137 ha , Kabupaten Nagekeo 23,86 persen dari 5.140 ha areal tanam rusak,” tuturnya.
(Fransiskus Dasa Saputra)