SEPTEMBER 2013 menjadi momentum yang tidak bisa dilupakan seluruh insan sepakbola Indonesia, khususnya Timnas U-19. Melalui drama adu penalti, Evan Dimas Darmono dan kawan-kawan meraih mahkota juara pada Piala AFF 2013. Prestasi emas tersebut dibukukan usai menundukkan Vietnam 7-6.
Pujian mengalir dari berbagai pihak. Seluruh penggawa Garuda Jaya tersebut dielu-elukan bagai pahlawan. Tentu sukses anak bangsa itu tidak lepas dari briliannya strategi yang diracik pelatih Indra Sjafri. Sepakbola Indonesia pun lepas dari kutukan tidak pernah mengangkat trofi juara dalam kurun 25 tahun terakhir.
Pelatih kelahiran 2 Februari 1963 tersebut membayar tuntas kepercayaan federasi sepakbola Indonesia, PSSI. Prestasi itu sekaligus membuktikan bahwa pelatih hebat tidak hanya berada di kota besar. Kepercayaan penuh yang diberikan PSSI kepada seorang pelatih dalam memilih pemain juga menjadi harga mati.
Indra Sjafri merupakan pahlawan sepakbola yang lahir di Lubuk Nyiur, Batang Kapas, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kendati namanya tidak tersohor, ia pernah menunjukkan talenta di lapangan hijau. Pada 1980-an, Indra pernah membela dan melatih PSP Padang.
Bekerja di Pos Indonesia
Karier profesionalnya di sepakbola sempat terhenti karena memutuskan bekerja di PT Pos Indonesia Cabang Kota Padang. Hati kecilnya kembali terpanggil untuk membentuk satu tim tangguh. Memang dia tidak serta-merta langsung dipercaya membentuk Timnas U-19.
Sebelum namanya populer seperti sekarang, Indra diminta menukangi Timnas U-16 Indonesia yang tampil pada babak penyisihan Piala Asia U-16 di Thailand. Saat itu Indonesia gagal menduduki tangga juara.
Pada 2012, Indra berhasil membawa timnas junior merebut mahkota juara turnamen tingkat Asia, Hong Kong International Youth Football (HKFA) U-17 dan HKFA U-19. Indra juga pernah bertugas sebagai instruktur dan pemandu bakat di PSSI sejak Mei 2009.