"Hanya 30 orang yang masuk ke Ketua Majelis PBB. Saya merasa beruntung saya satu-satunya orang yang membawa suara buruh selain teman saya dari Iran dengan isu pengungsi," jelasnya.
Di PPB sendiri pihaknya akan menekankan bahwa semua negara memiliki buruh. Menurutnya semua negara bisa eksis karena memiliki buruh dan pengungsi. "Semua negara harus menghentikan untuk mengutamakan hanya dari bisnis dan ekonomi. Akan tetapi lebih isu buruh ini ditekankan kepada hak asasi manusia. Ini prinsip fundamental. Selama buruh diperbandingkan dengan profit maka hak dan kesejahteraan buruh tidak akan teralisasi," katanya.
Sekedar informasi, buruh di seluruh dunia ada sekira 230 juta orang yang tersebar di beberapa negara utamanya negara maju. Khusus Indonesia sendiri ada sekira 10 juta TKI.
"Kita ini bekontribusi budaya, ekono politik dan banyak hal. Yang kami tekankan kepada negara penerima supaya mengakui migran dalam ekonomi, politik, sosial. Jangan menganggap kami hanya kelas kedua dan ketiga," paparnya.
Eni berharap agar negara pengirim tidak menjadikan buruh sebagai barang dagangan. Menurutnya buruh adalah aset pembangun negara. "Indonesia sudah kirim TKI sejak 1980 hampir 40 tahun apakah kita mengalami kemajuan? Lantin amerika pengirim terbesar apakah mereka mengalami kemajuan? Semoga ini titik tolak agar negara ini berpikir," tukasnya.
(Angkasa Yudhistira)