MEDAN - Wakil Ketua Komisi III DPR RI Tri Medya Panjaitan menilai, percobaan bom bunuh diri yang diduga dilakukan IAH (18) di Gereja Katolik Stasi St. Yosef Medan, menjadi penguat sinyal bahwa aksi kelompok teror di Indonesia, masih tetap ada. Kondisi itu sesuai dengan pesan yang didapat polisi saat membekuk kelompok teror Santoso di Poso, Sulawesi Tengah.
"Apa yang sudah diungkap polisi di Poso bahwa mereka menyampaikan pesan 'hilang satu tumbuh seribu', terbukti hari ini. Ini signal kuat mereka masih ada," kata Trimed di Mapolresta Medan, Minggu (28/8/2016).
(Baca: Benda Mencurigakan di Rumah Pelaku Percobaan Bom Bunuh Diri Medan)
Trimed menyebutkan, dengan adanya sinyal tersebut, ia berharap polisi dan TNI terus meningkatkan kewaspadaan. Sehingga aksi-aksi serupa bisa diantisipasi sejak dini.
"Ini juga menjadi pelajaran bagi aparat kepolisian dan TNI untuk tidak pernah lengah, bahwa mereka tetap masih ada," kata Trimed.
Trimed menyebutkan, pihaknya menunggu hasil penyelidikan polisi terkait kasus percobaan bom bunuh diri ini. Hasil penyelidikan tersebut pun akan dijadikan dasar bagi Pansus Rancangan Undang-Undang (RUU) Antiterorisme untuk memberikan kewenangan lebih bagi polisi dalam pemberantasan terorisme.
"Kita sudah bertemu dengan BNPT. Kita mendapatkan sejumlah masukan dari BNPT termasuk dari salah seorang pelaku Bom Bali, Ali Imron. Khususnya terkait upaya cuci otak pelaku teror kepada para pengantin pelaku bom bunuh diri. Masukan itu sangat berharga bagi kami," sambungnya.
"Oleh karena itu kami juga khusus datang ke sini untuk mendengar informasi dari penyidik. Ini akan kita jadikan masukan juga untuk pansus," tutupnya.
(Awaludin)