"Mereka (para pencuci otak) itu harus ditangkap. Sehingga ke depan tidak ada anak-anak lain yang menjadi korban. Negara harus melakukan pengawasan ketat khususnya untuk internet. Memang internet ini ada dampak positifnya, tapi kalau sudah yang negatif dan ada niat jahat di dalamnya, harus segera diantisipasi," pungkasnya.
Sebelumnya, pemuda berinisial IAH melakukan aksi teror di Gereja Katolik Stasi St Yosep, setelah disuruh oleh seseorang. IAH pun kemudian mencari informasi dari internet terkait aksi-aksi teror, termasuk cara membuat bom.
Namun sampai saat ini polisi belum mengonfirmasi terkait seseorang yang diduga menyuruh IAH. Tersangka pun belum kooperatif dan belum membuat pengakuan utuh atas kasus itu.
(Awaludin)