Pada dasarnya, itikad baik dari pemerintah di sini juga bisa dilihat oleh masyarakat. Ketika Dwi dan Yumelda dibebaskan, Bumi Pertiwi pun bersuka cita. Orangtua kedua mahasiswi beda provinsi itu juga mengapresiasi kinerja pemerintah.
Apalagi sekarang, KBRI juga memfasilitasi puluhan WNI mahasiswa di Turki untuk tinggal di Wisma Indonesia di Ankara. Itu baru sebagian, sedangkan jumlah penerima beasiswa pasiad ada 248 orang yang tersebar di 26 kota di Turki.
"Pertanyaannya, kalau mereka sekarang disuruh keluar, mereka mau ke mana? Mereka itu kebanyakan mahasiswa S-1, yang selepas lulus SMA dibawa dari kota-kota asalnya ke Turki oleh yayasan Pasiad. Mereka datang dari keluarga miskin, tidak kenal siapa-siapa, tidak ada sanak saudara di sana. Ada yang baru pertama kali ke luar negeri. Ketika ada masalah seperti ini, disuruh keluar, mau ke mana mereka?" tukas Azwir.
Mahasiswa Program Doktoral Hacettepe Universitesi itu juga menyayangkan, pemindahan ke KBRI baru dilakukan setelah tiga orang ditangkap. Kini tahun ajaran baru perkuliahan tinggal menghitung hari. Pada 24 September, setiap universitas di Turki serentak membuka kegiatan belajar mengajar kembali.
Namun ratusan WNI mahasiswa di Turki masih terancam tidak bisa mengikuti perkuliahannya. Mereka yang tinggal di Wisma KBRI Ankara kehidupan sehari-harinya terbilang cukup. Sementara mereka yang masih berada di rumah-rumah yang dikelola FETO, terancam diciduk aparat sewaktu-waktu.
Bagi mereka yang tinggal di fasilitas KBRI pun belum tentu bisa melanjutkan perkuliahannya dengan baik. "Kalau kuliahnya di Ankara bisa saja tidak terkendala jarak. Tapi bagaimana dengan yang kampusnya di luar Ankara dan Istanbul? Contoh, kalau mau ke Terabzon dari Ankara saja, naik bus bisa makan waktu 14 jam. Mau tetap tinggal di KBRI Ankara, gila enggak?" pungkasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)