Tapi karena kedekatannya, Oey muda cemburu. Kesal dan gelap mata, Oey Tambahsia memerintahkan ‘centeng-centengnya’ untuk menghabisi Tedjo. Kejahatan seperti ini juga sejatinya tidak hanya dilakukan pada orang-orang yang jadi rival dalam hal percintaan, tapi juga tak jarang terhadap para pesaing bisnisnya.
Sampai akhirnya aparat pemerintahan kolonial sudah gerah dengan perilaku dan kejahatannya, dikirimlah puluhan aparat bersenjata mengepung rumahnya. Oey muda menyerah dan ditahan, hingga akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan tiang gantungan.
Saat divonis dan diputuskan bahwa nyawanya bakal berakhir tragis di tiang gantungan, sang Casanova van Batavia baru berusia 31 tahun. Jelang ajalnya pun arogansi Oey muda tak kunjung sirna.
“Waktu sebelum dieksekusi hukuman gantung, dia bilang sama algojonya. Bahwa kalau si algojo bisa melakukan eksekusi tanpa membuat Oey didera rasa sakit tak terperikan, si algojo boleh ambil (bayaran) 100 gulden yang ada di saku pakaiannya,” tandas Beny.
(Randy Wirayudha)