DI tengah memanasnya awal Perang Dunia II, pada 17 September 1939, Polandia mendadak dihantam oleh invasi tambahan. Sebab Menteri Luar Negeri (Menlu) Uni Soviet Vyacheslav Molotov mendeklarasikan Pemerintah Polandia harus dihapuskan.
Keadaan ini sebenarnya makin memperburuk keadaan Polandia yang keadaan dalam negerinya sudah diporak-porandakan oleh invasi dari Nazi Jerman pada 1 September. Pasukan Polandia yang terdesak akhirnya memilih mundur dan berkumpul ke wilayah timur.
Mereka berkumpul di wilayah dekat Lvov, Galicia bagian timur demi menghindari operasi militer udara dan daratan Nazi. Namun, bukannya aman, ternyata mereka menyaksikan tentara Uni Soviet yang mulai menginvasi wilayah Polandia bagian timur.
Benang merah dari invasi Negeri Palu Arit ke Polandia sebenarnya bisa dikaitkan dengan Pakta Non-agresi Jerman-Uni Soviet yang ditandatangani oleh Menlu Jerman Joachim von Ribbentrop dengan Molotov. Pada pakta tersebut terdapat ayat yang berisi bahwa Uni Soviet berhak mendapatkan wilayah Polandia bagian timur ketika Nazi menginvasi negara tersebut.
Namun, Uni Soviet mengklaim invasi ke Polandia tersebut demi membantu “saudara sedarahnya”, yaitu Ukraina dan Belarusia yang wilayahnya telah dianeksasi secara ilegal oleh Polandia. Terdesak dari barat digempur oleh Nazi dan dari timur oleh Uni Soviet, Polandia memilih melawan pasukan Soviet.
Ketika berhasil mengalahkan pasukan Polandia, pasukan Soviet bergerak menuju wilayah timur jauh dan membuat mereka bertemu dengan pasukan Nazi. Pasukan Nazi kemudian mundur dan menyerahkan para tahanan perang ke Soviet.
Ribuan tentara Polandia akhirnya berada dalam cengkeraman Soviet, bahkan beberapa tahanan tersebut sengaja menyerahkan diri ke tentara Palu Arit demi menghindari dari Nazi. Akhir dari invasi tersebut membuat Uni Soviet menduduki tiga per lima wilayah Polandia.
(Emirald Julio)