PORT AU PRINCE – Kota tepi pantai Les Anglais merupakan kawasan pertama di Haiti yang dihantam Badai Matthew kategori empat pada Selasa 4 Oktober 2016. Saat itu hujan lebat turun disertai angin kencang berkecepatan 233 kilometer per jam.
Utusan pemerintah pusat, Louis-Paul Raphael mengungkap, Les Anglais kehilangan puluhan penduduknya. Gubernur Florida, Rick Scott yang wilayahnya kemudian ikut terimbas pada Jumat 7 Oktober bahkan menggambarkan badai ini sebagai monster. Dia menyapukan air Laut Karibia ke atas desa-desa di negara kepulauan Haiti yang rapuh.
Jalan-jalan hancur, rumah-rumah warga kehilangan atapnya. Sebagian besar gedung juga tertimpa pohon tumbang, demikian juga jembatan-jembatan ambruk dibuatnya hingga tanaman gugur sebelum waktunya.
“Semua rumah kami hancur. Begini lah keadaan kami sekarang,” kata seorang pedagang sayuran dan minuman di Port Au Prince yang menolak menyebutkan namanya, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (8/10/2016).
Banjir parah diperburuk dengan mewabahnya kolera, penyakit menular yang disebabkan bakteri Vibrio Cholerae dan menyerang saluran pencernaan. Sedikitnya 17 orang meninggal di Chardonnieres dan tujuh lainnya di Kota Anse-d’Hainault akibat penyakit tersebut.
“Karena banjir bandang dan dampaknya terhadap infrastruktur air dan sanitasi, kasus kolera diperkirakan akan melonjak setelah Badai Matthew hingga sepanjang musim hujan (di Haiti) sampai awal 2017,” demikian pernyataan resmi dari Organisasi Kesehatan Amerika Raya (PAHO).
Sedikitnya ada tiga kota di Haiti yang melaporkan puluhan korban jiwa. Salah satunya adalah Chantal, suatu desa yang dikelilingi bukit dan terkenal akan kesuburan ladangnya. Wali kota setempat menyebut ada 86 orang meninggal sebagai dampak dari Badai Matthew di desa tersebut.
Kebanyakan korbannya meninggal karena tak sempat melarikan diri, lalu rumahnya tertimpa pohon yang tumbang tertiup angin kencang. Selain itu, 20 orang juga dinyatakan hilang.
“Sebuah pohon roboh ke atas rumah saya dan meratakannya. Tentu saja, kami yang dibawah tertimpa. Saya tidak bisa keluar, sampai orang-orang datang mengangkat reruntuhannya. Saat itu juga, saya melihat istri saya sudah meninggal seketika,” tutur seorang korban, Jean-Pierre Jean-Donald (27).
Foto: Kota Jeremie di Haiti pascabadai Matthew. (AP)
Donald baru menikah setahun. Ketika diwawancarai, seorang anak perempuan menangis sambil terus memanggil ibunya di samping pria yang berprofesi sebagai sopir tersebut.
Selain Chantal, wilayah Grand’Anse di utara semenanjung negara kepulauan tersebut juga diterpa cukup parah. Puluhan orang menghilang tidak diketahui jumlah pastinya.
“Kami terbang ke bagian lagi di kawasan Grand’Anse. Bencana kemanusiaan di sana sungguh parah. Mereka sangat membutuhkan makanan, air dan obat-obatan,” beber Frenel Kedner, pejabat di Kota Jeremie, barat daya Haiti.
Jumlah korban tewas terus meningkat. Pemerintah setempat melaporkan, sejauh ini korban meninggal telah mencapai 877 orang. Lebih dari 61.500 penduduk hidup dalam kemah-kemah penampungan.
Sayangnya, akses jalan-jalan utama yang terputus telah menyulitkan proses pengiriman bantuan. Klinik-klinik setempat dibanjiri pasien, namun tak satu pun bisa ditangani selama empat hari ini. Termasuk para korban yang mengalami patah tulang.
Badai Matthew tahun ini sungguh tiada ampun. Khususnya bagi penduduk Haiti, warga dibiarkan tanpa tempat tinggal dan tiada pasokan listrik. Bahkan, makanan pun sangat langka, apalagi obat-obatan dan selimut.
Foto: Dampak Badi Matthew di Corail, Haiti. (Reuters)
Untunglah, beberapa warga lokal bersedia membuka rumahnya. Meski begitu, pemilik rumah pun mengaku tak berdaya menyediakan kebutuhan pangan para korban.
“Rumah saya tidak hancur, jadi saya bisa menerima mereka. Anggap saja rumah ini tempat penampungan sementara. Tapi saya tak punya cukup makanan untuk mereka,” ujar Bellony Amazan yang tinggal di Cavaillon.