PORT AU PRINCE – Petahana Presiden Haiti, Jocelerme Privert kecewa dengan komitmen masyarakat internasional dalam membantu rakyatnya membangun kembali negara yang hancur. Ia melihat, perhatian negara-negara di dunia begitu cepat surut dan teralihkan dari penderitaan rakyatnya.
Seperti diketahui, Haiti hancur lebur setelah dihantam Badai Matthew yang membawa hujan deras dan angin berkecepatan tinggi pada 4 Oktober lalu. Sedikitnya 800 orang meninggal akibat bencana alam tersebut.
Selain membenahi negara yang luluh lantah akibat badai, Presiden Privert mengungkap saat ini Haiti juga diperhadapkan pada krisis pangan parah dan kekurangan gizi. Dia mengakui bahwa negara tidak bisa membantu banyak sebagaimana jumlah kerugian gara-gara badai setara dengan seluruh anggaran nasional yang dimiliki.
Oleh karena itulah, dia mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk kembali mengulurkan tangan bagi pembangunan Haiti. Ia menegaskan, tanpa bantuan keuangan yang memadai untuk rakyat bercocok tanam, situasi di negaranya akan semakin buruk.
“Saya tidak ingin melihat rakyat Haiti mati karena tidak tersedianya bantuan internasional. Jika kita tidak berhasil membangkitkan pertanian negeri, maka dalam tiga sampai empat bulan ke depan kita siap-siap saja menghadapi krisis pangan parah,” ujar Privert dari kediamannya di Port au Prince, seperti dilansir dari BBC, Jumat (11/11/2016).
Privert menuturkan, biaya pembangunan pertanian yang dibutuhkan Haiti berkisar antara USD25 juta atau Rp339,5 miliar dan USD30 juta atau Rp407,4 miliar. Sementara anggaran yang ada di genggaman pemerintah saat ini hanya sepersepuluhnya, yakni USD2,5 juta atau Rp33,95 miliar.
“Komunitas internasional telah menyampaikan simpati mendalam mereka untuk rakyat Haiti. Para kepala negara juga sudah menghubungi kami, sejumlah kepala pemerintahan pun menyediakan beberapa bantuan baik secara moral dan materi. Tetapi semua itu belum cukup,” ucapnya.